Terapi Metadon Hanya Mengalihkan Saja

Kompas.com - 01/07/2008, 16:35 WIB

PSIKIATER Prof Dr dr LK Suryani, SpKJ berpendapat, terapi melalui "Rumatan Metadon" tidak signifikan bisa cepat menyembuhkan pecandu narkoba, karena penggunaan obat tersebut juga menimbulkan dampak ketergantuangan berbahaya.
    
"Itu hanya mengalihkan ketergantungan pada jenis narkotik yang lain saja. Bisa diibaratkan keluar dari mulut singa masuk mulut buaya. Terapi metadon sampai tiga tahun belum tentu sembuh," katanya di sela-sela Seminar Guru "Memahami Perkembangan Mental Anak Didik" di Denpasar, Selasa.
    
Seperti diketahui terdapat tiga golongan narkotik, yaitu yang alamiah seperti morfin dan kodein. Narkotik semisintetis, contohnya heroin, dan narkotik sintetis seperti fentanyl, petidin dan metadon. Obat-obatan jenis narkotik dalam bidang kedokteran juga berfungsi menghilangkan rasa nyeri yang sifatnya sementara.

Karena metadon juga menimbulkan dampak ketergantungan, bukan menyembuhkan, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu lebih memilih penyembuhan melalui "terapi memori". "Beberapa pecandu dan korban narkoba yang kami tangani melalui ’terapi memori’ bisa dengan cepat meninggalkan ketergantungan pada narkotik," katanya pada seminar yang diselenggarakan Telkomsel bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi Bali, diikuti sekitar 200 guru SMP dan SMA.
    
Karena itu ia mengingatkan agar hati-hati dalam penanganan pecandu dan korban narkoba melalui Klinik Rumatan Metadon, yang hanya akan mengalihkan ketergantungan pada jenis narkotik yang lain.

Dengan "terapi memori" yang dikembangkannya, pendiri dan President CASA (Committe Against Sexual Abuse) itu menjelaskan, pecandu narkoba pada tahap awal hanya diajak untuk "membedah" memorinya, dengan mengingat berbagai hal berkaitan dengan masa lalu.

Setelah dianggap cukup, dilanjutkan ke kegiatan yang sifatnya memilah-milah, yakni mengingat dan mengenang masa lalu yang baik-baik atau positif guna membangun kehidupan ke depan. Tahap berikutnya adalah membangun mental, dengan memberikan arahan dan masukan untuk membangun diri dan menumbuhkan kepercayaan diri, melalui pemberian pengetahuan dan berbagai hal yang terkait dengan kehidupan positif dan masa depan.
    
"Semuanya itu tidak bisa dilakukan begitu saja, tetapi harus disertai dengan meditasi atau pembangunan mental spiritual. Pada akhirnya dengan mental yang kuat akan mampu mengalahkan keinginan mengonsumsi narkoba," tambahnya.
  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau