Golkar Kepincut Nahkodai Pansus Angket

Kompas.com - 01/07/2008, 18:00 WIB

JAKARTA, SELASA - Fraksi Partai Golkar (FPG) secara terus terang mengincar posisi ketua panitia hak angket BBM. Hal ini diungkapkan oleh Ketua FPG DPR Priyobudisantoso, Selasa (1/7) kepada para wartawan di sela-sela Paripurna DPR. Kini, 50 panitia hak angket BBM dari lintas fraksi di DPR sudah disetujui, hanya tinggal menunjuk ketuanya saja.
 
Ketua DPR Agung Laksono mengungkapkan, rencananya pada Kamis (3/7) besok akan dilakukan rapat untuk menentukan siapa yang akan ditunjuk sebagai pimpinan panitia hak angket. Selanjutnya, pada minggu berikutnya akan ditetapkan.

Ketua Fraksi Golkar, Priyo Budi Santoso kemudian mengungkapkan keinginginan partainya untuk menjadi pimpinan dalam panitia angket BBM. Golkar, kata Priyo, telah menyiapkan tim terbaiknya masuk dalam panitia hak angket BBM.
 
"Namun, kalau ada fraksi lain yang lebih bagus Golkar siap jadi wakil. Dalam tatib Dewan, kita punya hak disana, harus adil. Mosok enggak boleh. Selama ini kan, Golkar posisinya moderat-moderat saja meski kalau membela masih dalam kerangka. Kami berharap,  jangan sampai terjadi politisasi dalam hak angket ini nantinya," kata Priyo.

Priyo menjelaskan  untuk mengawal hak angket ini Golkar telah siapkan tim terbaik yang berjumlah 12 orang yang tak lain kader terbaik Partai Golkar.  Tim ini dibentuk atas petunjuk Ketua Umum DPP Partai Golkar, Jusuf Kalla melalui rapat harian.
 
"Tapi, kalau memang ada ada anggota dari fraksi lain yang kualitasnya lebih bagus. Pihaknya siap untuk mengambil posisi wakil. Tentu, kami memahami keinginginan dari beberapa fraksi seperti PKB untuk mengambil kepemimpinan, ya monggo saja, kami tidak keberatan," ujar Priyo.

"Kalau ini tidak bisa, kami ambil posisi wakil saja, tidak apa-apa," tambahnya seraya menegaskan, posisi wakil merupakan alternatif terakhir.

Keinginan Partai Golkar untuk menahkodai panitia angket BBM, dikritisi oleh anggota fraksinya sendiri, Yuddy Chrisnandi. Yuddy yang selama ini dikenal kerap berseberangan dengan kebijakan fraksinya ini menyatakan, tidak etis bila partainya harus menahkodai panitia angket.

"Golkar tidak perlu memimpin, karena tidak etis. Tidak mendukung kok terus memimpin? Hal ini, akan timbul kecurigaan-kecuriga an dari masyarakat yang bertendensi seolah-olah kepemimpinan Golkar dalam panitia itu hanya untuk menggagalkan hak angket itu. Tidak
baik untuk Partai Goklkarnya," Yuddy menjelaskan.

Yuddy juga mengatakan dalam mengawal hak angket, fraksi- fraksi yang megirimkan orangnya dalam panitia haruslah yang mengerti dan ahli dalam bidang energi.

"Kalau saya sebagai ketua fraksi partai Golkar saya akan kirim orang- orang yang ahli, dan yang mengerti isu-isu masalah energi, jadi kirim saya sebagai ketua fraksi parati golkar saya akan kirim orang-orang yang ahli, dan yang mengerti isu-isu maslah energi. Dan dalam hal ini, lebih baik partai Golkar jadi makmum saja lah," pinta Yuddy Chrisnandi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau