390 Ribu Calon Mahasiwa Berebut 82 Ribu Kursi PTN

Kompas.com - 01/07/2008, 20:36 WIB

JAKARTA, SELASA - Tidak akan mudah bagi calon mahasiswa yang ingin masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mereka harus melewati persaingan super ketat. Pasalnya, jumlah calon mahasiswa yang sudah mendaftar untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN) yang akan dilaksanakan pada 2-3 Juli 2008, hampir lima kali lebih besar dari jumlah kursi yang tersedia di Perguruan Tinggi Negeri.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas), Fasli Jalal, di Jakarta, Selasa (1/7). Dikatakan Fasli, sudah lebih dari 390 ribu calon mahasiswa yang mendaftar untuk ikut Seleksi Nasional Masuk PTN. Padahal, kata dia, jumlah kursi yang tersedia di PTN, 'hanya' sekitar 82 ribu kursi. Artinya, satu kursi bakal diperebutkan oleh minimal lima orang.

"Kursi yang tersedia di PTN sekitar 82 ribu, dan itu akan diperebutkan lebih dari 390 calon mahasiswa," ujar Fasli usai memberika keterangan kepada wartawan soal pagelaran mahasiswa nasional di kantor Depdiknas Jakarta, Selasa (1/7).

Fasli sendiri mengaku tidak mengira jika jumlah calon mahasiswa yang mendaftar sebegitu banyak. Ia mengira, sedikit banyak calon mahasiswa sudah tersedot masuk dalam pendaftaran Seleksi Mahasiswa Baru (SMB).

"Kami sebenarnya agak surprise juga karena jumlah pendaftar yang lalu kan 400 ribu. Nah, kalau misalnya dikurangi sekitar 100 ribu yang ikut SMB, bayangan kami sekitar 300 ribu. Ternyata lebih dari yang kita bayangkan menjadi 390 ribu pendaftar. Jadi memang animonya cukup tinggi," lanjut Fasli.

Terkait jurusan apa saja yang paling diminati oleh calon mahasiswa, Fasli mengatakan bahwa detailnya, dirinya belum mengetahui. "Tapi yang jelas, ini akan terdistribusi lebih merata, dan juga peminatan daerah juga menjangkau 32 lokasi untuk melamar ke PT ternama," jelas Fasli yang mengaku akan meninjau langsung pelaksanaan SNMPTN di Surabaya.

Dikonfirmasi perihal sempat terjadinya kekacauan ketika pendaftaran, di mana sudah mendaftar di Bank Mandiri tapi kemudian nama yang bersangkutan tidak keluar, Fasli menegaskan bahwa itu warna-warni pengalaman pertama yang memang terkadang sulit. Namun, kata dia, masalah itu sudah bisa diatasi.

"Biasanya antara formulir dengan online nya Bank Mandiri ini yang kadang- kadang masih perlu beberapa perbaikan, tetapi itu dengan cepat ditemukan dan saat ini tidak ada masalah lagi. Yah, biasanya awalnya saja ada masalah, tapi ada jalan keluar," jelas Fasli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau