Uang Pelicin di Dephub Itu Biasa

Kompas.com - 02/07/2008, 00:22 WIB

JAKARTA, RABU - Ternyata bukan hanya anggota Dewan Perwakilan Rakyat saja yang mendapatkan uang sogokan untuk pengadaan kapal patroli Dirjen Perhubungan Laut.

Menurut keterangan Direktur PT Bina Mina Karya Perkasa, Dedi Suwarsono yang menjadi salah satu tersangka kasus tersebut, uang pelicin ini juga diberikan kepada beberapa nama di departemen itu.

"Benar memang ada (pemberian uang). Tapi itu memang prosedur departemennya. Artinya, tanpa diberikan itu, proyek tidak mungkin didapat. Itu suatu sistem di Departemen Perhubungan. Menurut klien saya, itu sudah berlangsung lama dan itu suatu kebiasaan," ungkap pengacara Dedi, Kamaruddin Simanjuntak, seusai menemani kliennya di Gedung KPK, Selasa (1/7).

Dia mengatakan nama-nama orang Dephub yang terlibat sudah terungkap dan sudah diserahkan ke tim penyidik KPK. Syarat yang diajukan pihak Dephub, lanjutnya, pengusaha harus menyetorkan uang sebesar 8 persen dari total proyek. Nilai proyek pengadaan 20 kapal patroli sebesar Rp 118 miliar dimenangkan oleh lima pengusaha, salah satunya PT Bina Mina Karya Perkasa.

"Namun, setelah dinego, turun jadi 7 persen. Kalau ke Dephub kami belum ngasih, baru janji-janji. Jumlahnya sama dengan orang dewan, Rp 1,68 miliar per pengusaha. Tapi para pengusaha sudah memberikan uang lelah. Satu pengusaha memberikan uang lelah sebesar 1.500 dollar AS dan Rp 10-20 juta. Padahal ada lima pengusaha, satu pengusaha empat kapal," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau