Di Pasaran, Elpiji 12 Kg Naik Jadi Rp70.000

Kompas.com - 02/07/2008, 10:45 WIB

JAKARTA, RABU - Sejumlah pedagang eceran dan distributor elpiji di Jakarta mulai menaikkan harga. Harga elpiji isi 12 kg yang sebelumnya Rp 51.000-Rp 56.000 naik menjadi Rp 65.000 hingga Rp 70.000.

PT Pertamina mengumumkan penaikan harga elpiji dari Rp 4.250 menjadi Rp 5.250 per kg mulai 1 Juli 2008. Harga elpiji 12 kg dari semula Rp 53.000 naik menjadi Rp 63.000. Pertamina menyatakan, penaikan harga elpiji dilakukan karena harga saat ini jauh di bawah harga pasar internasional.

Harga elpiji di pasar saat ini mencapi Rp 9.000 per kg. Sedangkan harga jual Pertamina ke agen saat ini hanya Rp 3.879 hingga Rp 4.000 per kg. Agen atau distributor elpiji mendapat margin Rp 250 hingga Rp 500 per kg.

Samsul Azhar, Manager PT Samara Permata, penyalur elpiji di jalan Petogogan II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin menjual elpiji 12 kg seharga Rp 67.000. "Iya, harganya memang sudah naik mulai Selasa. Senin lalu kami masih menjual Rp 55.000 elpiji isi 12 kg," katanya. Menurut Samsul, perusahaannya hanya distributor tingkat sedang, sehingga memesan elpiji dari agen besar di kawasan Duri Kosambi, Jakarta Barat.

Meski harga naik, tingkat penjualan elpiji tidak ada penurunan. Selain konsumen rumah tangga, pelanggannya juga dari restoran. "Pelanggan nggak komplain, mereka sudah tahu. Hanya, kenaikannya cukup tinggi," ujarnya seraya menambahkan, pasokan elpiji untuk perusahaannya normal, yakni 200 tabung per hari.

Sementara itu, penyalur elpiji PT Koperasi Cahaya Gasindo Jaya di Jalan Pembangunan III, Petojo Utara, Jakarta Pusat, menaikkan harga elpiji 12 kg dart Rp 55.000 menjadi Rp 65.000. "Harga kami memang tidak terlalu mahal, karena dikirim langsung dari Tanjungpriok," kata seorang pekerja yang enggan menyebutkan namanya. Penyalur ini biasa menjual 200 hingga 300 tabung per hari.

Sedangkan Aditia (25), pedagang gas di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, menjual elpiji isi 12 kg lebih mahal dari tempat lain, yakni Rp 70.000. Sebelumnya, ia menjual elpiji ukuran sama Rp 58.000. "Sekarang jadi Rp 70.000. Memang gasnya masih stok lama, tapi kan semua sudah menaikkan harga," katanya seraya mengatakan belum mengetahui harga baru dari penyalur. Sejumlah warga mengeluhkan kenaikan harga elpiji isi 12 kg yang cukup tinggi. Linda, warga Jalan Kubis, Kebayoran Baru,sangat keberatan dengan melonjaknya harga itu. "Naiknya tinggi sekali, lumayan berasa. Tapi tetap harus beli daripada nggak bisa masak," tutur ibu rumah tangga ini. Linda biasa membeli elpiji isi 12 kg sebulan sekali.

Kenaikan harga elpiji 12 kg tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan gas ukuran 3 kg. Menurut sejumlah pengecer elpiji di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, penjualan gas isi 3 kg tetap normal. "Masih biasa saja, nggak ada peningkatan," kata Mustaqim pedagang gas dan sembako di Jalan Bangka Raya. Harga jual gas 3 kg tidak naik, Rp 15.000 hingga Rp 16.000.

Resto terpukul

Kenaikan harga elpiji 12 kg memukul pebisnis makanan karena keuntungan mereka makin tipis. "Barat sekali kondisi sekarang di bisnis makanan. Semua bahan pokok naik, sekarang harga elpiji naik. Sementara harga jual sulit untuk naik," kata Sunarto, pemilik restoran ayam goreng di Serpong, Tangerang, ketika ditemui Warta Kota, Selasa (1/7).

Menurut Sunarto, dirinya sudah delapan tahun menggeluti bisnis makanan. Namun baru kali ini mengalami tekanan yang luar biasa. "Harga bahan baku semuanya naik, tapi menaikkan harga jual Rp 500 sampai Rp 1.000 saja sulit. Saya khawatir langganan pada kabur," ucapnya.

Sunarto mengaku, saat ini bisa untung 10 persen saja sudah tergolong mujur. "Kalau usaha mau bagus, harga harus naik minimal 20 persen. Tapi apa mungkin menaikkan harga sebesar itu?"

Harga seporsi ayam goreng kalasan berikut nasi dan lalapan di restoran Sunarto Rp 10.500. "Rencana menaikkan harga memang ada, tapi melihat pedagang lain dulu," ujarnya.

Lim, pemilik restoran bakmi bangka Sari Rasa di Meruya Ilir, Jakarta Barat, mengatakan hal yang sama. "Sudah dua tahun saya tak menaikkan harga jual, masih Rp 8.000/ porsi. Karena, saya tahu diri. Langganan saya adalah para karyawan. Kalau hargariya naik, mereka pada keberatan," ucapnya.

Para pengusaha katering yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) juga menjerit atas kenaikan harga elpiji. Ketua Umum APJI, Hj Ning Sudjito, mengatakan kenaikan harga elpiji semakin menyulitkan pebisnis makanan, khususnya yang menggunakan elpiji 12 kg. (Warta Kota/sab/ver)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau