Waduk dan Bendung di Pantura Kritis

Kompas.com - 02/07/2008, 19:14 WIB

TEGAL, RABU - Dua waduk dan tujuh bendung di pantura (pantai utara) semakin kritis. Rata-rata ketersediaan air di tujuh bendung tersebut hanya mencukupi 36 persen hingga 88 persen kebutuhan air dari areal yang dialirinya. Agar ketersediaan air mencukupi, pengeluaran air harus dihemat.

Koordinator Pelaksana Alokasi Air BPSDA Pemali Comal, Dasirun, Rabu (2/7) mengatakan, kondisi Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal dan Waduk Malahayu di Kabupaten Brebes semakin kritis. Elevasi dan volume air di kedua waduk tersebut semakin menyusut.

Saat ini, elevasi Waduk Cacaban hanya mencapai 72,89 meter, dengan volume 23,79 juta meter kubik. Volume air Waduk Cacaban yang ada saat ini hanya sekitar 50 persen dari volume air waduk tersebut saat mencapai titik tertinggi tahun ini, Maret 2008 lalu.

Padahal sesuai pola atau rencana, elevasi Waduk Cacaban seharusnya masih mencapai 74,42 meter, dengan volume 31,2 juta meter kubik. Waduk tersebut mengairi lahan seluas 7.439 hektar di wilayah Kabupaten Tegal.

Elevasi Waduk Malahayu saat ini mencapai 53,18 meter, dengan volume 21,08 juta meter kubik. Ketersediaan air di sana juga lebih sedikit bila dibandingkan dengan rencana. Seharusnya, elevasi air Waduk Malahayu masih mencapai 54,60 meter, dengan volume 29,4 3 juta meter kubik. Waduk tersebut mengairi lahan di wilayah Brebes, seluas 12.486 hektar.

Selain dua waduk tersebut, Waduk Penjalin yang ada di Brebes juga mulai dibuka. Waduk Penjalin dibuka apabila ketersediaan air di bendung Notog (bendung di bawahnya) sudah tidak memadai. Selain itu, dibukanya Waduk Penjalin karena adanya proyek pembanguna n beton di tengah bendungan.

Menurut Dasirun, agar ketersediaan air masih mencukupi untuk pengairan, saat ini pengeluaran air mulai dihemat. Petani juga mulai menggunakan sistem gilir. Prioritas diberikan kepada petani yang mengikuti pola tanam, serta lahannya sudah benar-benar kering.

Bagi mereka yang tidak mendapat kecukupan air, diharapkan juga menggunakan mesin pompa air. Hingga saat ini, BPSDA Pemali Comal sudah meminjamkan lima mesin pompa air kepada petani di Kabupaten Tegal dan Brebes.

Dasirun mengatakan, saat ini tujuh bendung di pantura juga kritis. Tujuh bendung itu meliputi Bendung Notog, Krompeng, Pesantren Klethak, Kaliwadas, Kedung Dowo Kramat, Tapak Menjangan, dan Sudikampir. Ketersediaan air di enam bendung tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 36 persen hingga 88 persen kebutuhan air bagi areal sawah yang dialirinya.

Marzuki (55), petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal mengatakan, saat ini air semakin sulit diperoleh. Ia harus memompa sumur pantek, dengan biaya sekitar Rp 300.000 per minggu.

Ia juga lebih memilih menanam jagung, yang kebutuhan airnya lebih sedikit bila dibandingkan padi. Petani di wilayahnya masih tetap bertahan karena selama ini mereka dikenal sebagai pemasok terbesar hasil pertanian di Kabupaten Tegal.

Ketua Kelompok Tani Tri Mulya II, Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal mengatakan, selain kesulitan mendapatkan air, petani juga kesulitan mendapatkan pupuk. Agar tidak gagal panen, petani mulai menggunakan mesin pompa air.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau