NEW YORK, RABU - Harga minyak melesat ke rekor tertinggi baru sebesar 144 dolar AS, Rabu (2/7) waktu setempat, atau Kamis (3/7) pagi WIB. Harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus melonjak ke rekor tertinggi 144,65 dolar AS sebelum mantap pada 144,26 dolar AS, naik 3,59 dolar AS.
Sementara, kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Agustus, terdorong ke rekor perdagangan harian 143,91 dolar AS, sebelum ditutup pada 143,57 dolar AS, atau naik 2,60 dolar AS. Dalam perdagangan "after-hours", minyak mentah New York melesat ke posisi tertinggi 144,15 dolar AS per per barrel.
Kenaikan ini terjadi karena melemahnya dolar AS dan turunnya cadangan minyak negara adidaya itu. Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan Rabu, cadangan minyak mentahnya telah turun 2,0 juta barrel pada pekan yang berakhir 27 Juni yang mempercepat kenaikan di pasar berjangka.
Melemahnya dolar AS juga mendorong naiknya harga minyak karena pembayaran dilakukan dalam mata uang ini. Dolar Amerika turun terhadap sebagian besar mata uang utama.
Phil Flynn dari Alaron Trading mengatakan, harga minyak terus memperoleh momentum di tengah kekhawatiran tentang ekonomi global, dolar dan penyakit lainnya.
Di tengah turunnya cadangan minyak AS, Sekretaris Jenderal OPEC Abdallah el-Badri, dalam sebuah wawancara Rabu, mengatakan, otoritas AS akan menghentikan tekanan terhadap negara-negara anggota organisasinya untuk memproduksi minyak mentah lebih banyak.
"Sebagai kekuatan utama dunia, Saya ingin mereka menghentikan tekanannya terhadap negara-negara OPEC," kata dia kepada surat kabar Spanyol, El Pais, ketika ditanya tentang sebuah tindakan Kongres AS yang mengijinkan departemen kehakiman untuk menggugat anggota-anggota OPEC untuk konspirasi membatasi pasokan atau mendorong harga naik.
Ia juga menyatakan bahwa harga minyak yang setinggi langit bukan karena kurangnya pasokan -- seperti pendapat negara-negara barat -- tapi karena spekulasi yang dipicu oleh krisis kredit perumahan di AS.
"Pada kenyataaannya, itu semua sangat mudah dijelaskan: krisis subprime pada musim panas lalu di Amerika Serikat telah berdampak buruk terhadap pasar-pasar saham. Para investor mencari produk-produk (finansial) lainnya dan komoditi telah menjadi pilihan menarik untuk spekulasi," kata el-Badri.