JAKARTA,KAMIS- Harga minyak dunia yang sekarang sudah di atas 140 dollar AS per barrel membuat ruang gerak pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kian menyempit. Kenaikan itu akan meningkatkan subsidi bahan bakar minyak, yang pada akhirnya menyedot anggaran untuk sektor lain.
"Kami harap Bank Indonesia (BI) tidak terlalu eksesif menaikkan suku bunga karena kami akan menekan laju inflasi yang disebabkan oleh tekanan biaya. Namun, itu pun ada batasnya karena harga minyak sudah 140 dollar AS. Ini memengaruhi kemampuan APBN dalam menekan inflasi," ujar Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Rabu (2/7) di Jakarta.
Fiscal space (ruang bagi pemerintah menggunakan sumber daya keuangannya) di APBN semakin sempit jika harga minyak di pasar dunia semakin meningkat. Sebab, kenaikan harga minyak secara langsung meningkatkan subsidi BBM. Kenaikan subsidi BBM ini akan menyedot anggaran yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain, termasuk dukungan untuk pertumbuhan ekonomi, seperti program ketahanan harga pangan.
Program ini mencakup penerapan pajak ditanggung pemerintah (DTP) untuk minyak goreng dan kedelai, penurunan bea masuk beras, hingga penerapan bea keluar untuk ekspor minyak kelapa sawit. Total dana yang disediakan sekitar Rp 10 triliun.
Kebijakan ini dilakukan untuk menjamin agar pasokan bahan makanan di dalam negeri terjamin sehingga mencegah peningkatan harga. Ini dilakukan untuk menekan inflasi yang disebabkan oleh dorongan biaya (cost push inflation).
Atas dasar itu, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi di 2008 tetap berada di atas lima persen dan di triwulan II 2008 mencapai enam persen. Itu jauh melampaui Amerika Serikat yang diperkirakan hanya 0,8 persen. Dalam APBN Perubahan 2008, anggaran subsidi BBM ditetapkan Rp 126,8 triliun. Namun, itu masih bisa ditambah hingga Rp 135,3 triliun jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran (net impact) migas minus, atau lebih besar pengeluaran dibandingkan dengan penerimaannya.
BBM tidak perlu naik lagi
Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan, meski harga minyak mencapai 143 dollar AS per barrel, pemerintah tidak bisa menaikkan harga BBM lagi karena net impact migas masih positif. "Volume BBM bersubsidi masih bisa ditekan di bawah 39 juta kiloliter sepanjang 2008. Lalu, lifting (produksi minyak siap jual) masih bisa didongkrak hingga 928.000 barrel per hari. Dengan harga minyak 150 dollar AS per barrel pun, APBN masih bisa menanggung subsidi BBM sehingga harga BBM tidak perlu naik," ujarnya.