AS Pindahkan Uranium Warisan Saddam

Kompas.com - 06/07/2008, 14:27 WIB

 

 

WASHINGTON, MINGGU - Peninggalan terakhir program nuklir Saddam Hussein, cadangan uranium alam dalam jumlah besar tiba di pelabuhan Kanada, Sabtu (5/7). Ini merupakan operasi rahasia AS yang dilakukan selama dua minggu lewat darat, udara, dan laut.

Pemindahan 550 metrik ton uranium bahan baku pengayaan nuklir tingkat tinggi merupakan langkah penting dalam mengosongkan warisan program nuklir Saddam. Hal ini juga memberikan ketenangan bagi Pemerintah AS dan Irak, yang sebelumnya khawatir para penyelundup akan mencuri cadangan ini, kemudian menyeberang ke Iran untuk membantu program nuklir negara itu.

Walaupun tidak dianggap sebagai bom yang berbahaya bahan eksplosif (yang mudah meledak) yang menyebarkan material radioaktif, uranium alami dapat memicu kepanikan jika dibarengi dengan ledakan. Uranium alami juga dapat dikembangkan di reaktor menjadi senjata nuklir.

Tentara AS dan Irak telah menjaga areal penyimpanan seluas 9.300 hektar karena setelah kejatuhan Saddam, penduduk di sekitar menjarah tong penyimpanan uranium alami untuk digunakan sebagai wadah air minum.

Pemerintah Irak kemudian menjual uranium alami itu kepada perusahaan Kanada, Cameco Corp, dengan nilai puluhan juta dolar, kata seorang pejabat. Juru bicara Cameco Lyle Krahn menolak menyebutkan harga, tetapi mengatakan uranium alami akan dipergunakan untuk kepentingan reaktor penghasil energi.

"Kami sangat senang bahwa kami telah mengambil (uranium alami) dari daerah berbahaya ke daerah yang stabil untuk menghasilkan energi listrik yang bersih, " kata Lyle Krahn.

Uranium bukan urusan mudah dan proses pemindahannya pun harus menghadapi beberapa rintangan. Pada awalnya para diplomat dan petinggi militer mempertimbangkan membawa uranium alami menuju pelabuhan Kuwait di Teluk Persia. Namun, rute ini akan melewati wilayah Syiah dan berada dalam jangkauan kelompok ekstemis yang dicurigai memihak Iran. Pelayaran ini juga harus melewati Tanjung Hormuz yang sempit, tempat kapal AS dan Iran sering bertemu. Apalagi, Pemerintah Kuwait juga enggan membuka perbatasannya. Akhirnya diputuskan membawa urinium itu dengan pesawat kargo.

Pemindahan dimulai pada bulan April ketika iring-iringan truk yang membawa 3.500 barrel uranium alami yang sudah dipindahkan ke wadah yang baru dan aman mulai bergerak dari Tuwaitha ke Bandar Udara Internasional Baghdad, kata seorang pejabat. Kemudian, selama dua minggu pada bulan Mei, material itu diterbangkan dengan menggunakan 37 pesawat militer menuju Diego Garcia, wilayah Inggris di Samudera Hindia, yang menjadi pangkalan militer AS. Pada tanggal 3 Juni kapal AS meninggalkan pulau tersebut menuju Montreal, menempuh jarak 22.015 kilometer dan tiba pada 5 Juli 2008.

"Setiap orang gembira atas pemindahaan yang berlangsung aman ini," kata seorang pejabat senior AS, yang menolak disebut namanya. Ia menguraikan secara singkat operasi yang berlangsung hampir tiga bulan ini kepada Associated Press.

Uranium alami bukanlah satu-satunya barang berbahaya yang dipindahkan dari Tuwaitha. Awal tahun ini pihak militer menarik empat alat pengendali pancaran radiasi dari Tuwaitha. Alat ini dapat digunakan untuk menawarkan racun pada makanan dan benda lainnya. Alat ini mengandung radioaktivitas tinggi yang dapat berpotensi digunakan sebagai senjata, menurut keterangan seorang pejabat.

Yang tersisa sekarang adalah tekanan terakhir untuk membersihkan reruntuhan dan puing-puing radioaktif yang tersisa di bekas kompleks nuklir Tuwaitha, sekitar 31 kilometer dari selatan Baghdad dengan mengerahkan para ahli dari Irak yang baru-baru ini mendapat pelatihan di Chernobyl, Ukraina. Tuwaitha dan fasilitas penelitian di sekitarnya diketahui selama berpuluh-puluh tahun sebagai pusat penelitian nuklir Saddam.

Seorang ahli keamanan Badan Tenaga Atom Internasional IAEA, Dennis Reisenweaver, memperkirakan proses pembersihan reruntuhan dan puing-puing akan memakan waktu bertahun-tahun. IAEA menawarkan bantuan tenaga ahli.

Pesawat tempur Israel pernah memborbardir proyek reaktor di wilayah tersebut pada tahun 1981. Kemudian, inspektur PBB menjaga uranium alami yang disimpan dalam tong tua dan kontainer itu sebelum Perang Teluk pada tahun 1991. "Tidak ada bukti penambahan uranium alami baru sejak tahun 1991," kata seorang pejabat.

Uranium alami diperoleh dengan menggunakan berbagai larutan untuk menyuling dari biji besi mentah serta menghasilkan warna dan konsistensi seperti jagung. Ia tidak berbahaya jika disimpan dan ditutup dengan benar. Namun, jika tidak hati-hati, menurut para ahli, ini dapat berbahaya karena merusak organ dalam. "Masalah besar datang dari hirupan debu uranium alami," kata Doug Brugge, profesor di bidang kesehatan di Tufts University School of Medicine. (C9-08)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau