Laporan Wartawan Kompas Haryo Damardono
JAKARTA, SENIN - PT Pelni membangun sistem kontrol keberangkatan atau departure control untuk memperketat proses keberangkatan penumpang. Dengan sistem ini, diharapkan penumpang lebih nyaman dan keselamatan pelayaran lebih terjamin.
Demikian dikatakan Kepala Divisi Kapal Penumpang Pelni Daniel Bangunan, Senin (7/7) di Jakarta. Dia mengatakan, sistem baru ini diterapkan untuk mengantisipasi perpindahan penumpang udara ke laut, ditengah kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak.
Daniel mengatakan, departure control mulai diterapkan di Semarang dan Surabaya sejak Desember 2007. Pelni sedang mempersiapkan departure control di Makasar (Sulawesi Selatan), Belawan (Sumatera Utara), dan Tanjung Priok (Jakarta).
Konsep departure control serupa dengan di terminal bandara. Jadi, terminal akan lebih steril karena hanya penumpang bertiket yang boleh memasuki terminal dan menaiki kapal. Investasi yang dibutuhkan untuk tiap departure control sebesar Rp 200 juta per pelabuhan, berupa perangkat lunak, perangkat keras elektronik, dan pemindai (X-ray). "Untuk fasilitas di pelabuhan, sebenarnya tanggung jawab pemerintah. Tetapi, terlalu lama bila harus menunggu tindakan dari pemerintah," ujar Daniel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang