Pelni Bangun "Departure Control"

Kompas.com - 07/07/2008, 14:04 WIB

Laporan Wartawan Kompas Haryo Damardono

JAKARTA, SENIN - PT Pelni membangun sistem kontrol keberangkatan atau departure control untuk memperketat proses keberangkatan penumpang. Dengan sistem ini, diharapkan penumpang lebih nyaman dan keselamatan pelayaran lebih terjamin.

Demikian dikatakan Kepala Divisi Kapal Penumpang Pelni Daniel Bangunan, Senin (7/7) di Jakarta. Dia mengatakan, sistem baru ini diterapkan untuk mengantisipasi perpindahan penumpang udara ke laut, ditengah kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak.

Daniel mengatakan, departure control mulai diterapkan di Semarang dan Surabaya sejak Desember 2007. Pelni sedang mempersiapkan departure control di Makasar (Sulawesi Selatan), Belawan (Sumatera Utara), dan Tanjung Priok (Jakarta).

Konsep departure control serupa dengan di terminal bandara. Jadi, terminal akan lebih steril karena hanya penumpang bertiket yang boleh memasuki terminal dan menaiki kapal. Investasi yang dibutuhkan untuk tiap departure control sebesar Rp 200 juta per pelabuhan, berupa perangkat lunak, perangkat keras elektronik, dan pemindai (X-ray). "Untuk fasilitas di pelabuhan, sebenarnya tanggung jawab pemerintah. Tetapi, terlalu lama bila harus menunggu tindakan dari pemerintah," ujar Daniel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau