Pelaku Industri Rumahan Tak Tahu Ada Pemadaman Bergilir

Kompas.com - 08/07/2008, 12:43 WIB

JAKARTA, SELASA - Sejak pekan lalu PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang telah mengumumkan akan adanya pemadaman listrik secara bergilir di wilayah DKI Jakarta, mulai 11 Juli hingga 25 Juli. Ternyata informasi tersebut tak sampai ke sejumlah pelaku industri rumahan (home industry) di Pusat Industri Kecil Penggilingan, Jakarta Timur.

Saat ditemui Kompas.com, Selasa (8/7) siang, beberapa pelaku industri terkejut. "Ah, masak sih? Kapan? Saya belum dapat informasi. Sekarang sudah sering padam, masih mau dibikin bergilir lagi?," kata Prihatin alias Atin, pengawas Koperasi Kanari, yang merupakan produsen celana jin, Selasa (8/7).

Keterkejutan tak hanya milik Atin. Carka, pengawas pekerja di CV Sefti Collection, juga memberikan ekspresi yang sama. Ia malah bertanya waktu dan seperti apa pola pemadamannya.

Selama ini, menurut dia, tak pernah ada informasi yang diberikan kepada pelaku industri, kapan jadwal pasti pemadaman. "Ini jelas merugikan. Udah dateng ke sini tiba-tiba listrik mati seharian. Kita enggak bisa apa-apa," ujar Carka.

Bagi para pelaku industri rumahan, listrik menjadi satu-satunya andalan. Mereka tak menggunakan genset kala listrik padam. "Kita nggak kaya pabrik-pabrik besar. Listrik mati, habislah kita. Kalau kita dapet informasi, wilayah kita kapan padamnya, berapa jam, mungkin lebih baik ya. Kita bisa antisipasi," kata Carka.

Padahal, menurut pengakuan Atin dan Carka, pekan lalu terjadi pemadaman listrik sebanyak tiga kali. Tak tanggung-tanggung, dari pukul 14.00 hingga 24.00. Akibatnya, produksi mereka mandek dan tidak bisa menyalurkan barang ke para distributor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau