DKI Batasi Izin Pasar Modern

Kompas.com - 08/07/2008, 20:46 WIB

JAKARTA, SELASA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi izin pendirian pasar modern-pasar modern baru agar tidak mematikan pasar tradisional. Namun, pemerintah tidak dapat menutup pasar modern yang terlanjur berdiri dekat dengan pasar tradisional karena sudah mendapat izin resmi.

"Saya tidak mentoleransi pendirian pasar modern yang jaraknya kurang dari 2,5 kilometer dari pasar tradisional. Saya mengenal semua lokasi di Jakarta sehingga dapat menentukan izin pasar modern yang dapat disetujui atau yang tidak," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Selasa (8/7) di Balaikota DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi pendirian pasar modern pada radius 2,5 kilometer dari pasar tradisional melalui Peraturan Daerah (Perda) 12/2002. Namun, pasar modern terus tumbuh pesat di berbagai sudut Jakarta.

Dampaknya, omset para pedagang pasar tradisional turun drastis dan tujuh pasar tradisional tutup.

Namun, kata Fauzi, pihaknya tidak dapat menutup pasar modern yang sudah terlanjur berdiri dengan izin dari pemerintahan sebelumnya. Pemerintah juga tidak dapat menghalangi perpanjangan izin pasar modern jika semua syarat formal dipenuhi. Pemerintah hanya dapat menolak permintaan izin pasar modern baru yang dekat dengan pasar tradisional.

Untuk menghadapi persaingan dengan pasar modern, kata Fauzi, para pedagang tradisional juga diminta berubah seiring tuntutan konsumen. Fauzi mencontohkan pasar di Bumi Serpong Damai yang rapi, bersih, dan tidak becek sebagai pasar tradisional yang diminati konsumen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau