Manusia Kawat Bikin Prihatin Menkes (5)

Kompas.com - 09/07/2008, 07:05 WIB

BALIKPAPAN - Penyakit aneh yang diderita Noorsyaidah akhirnya juga menarik perhatian Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari. Menkes mengaku sangat prihatin terhadap Noorsyaidah yang harus menahan sakit karena dari tubuhnya keluar ratusan batang kawat selama 17 tahun terakhir.

Menkes berjanji akan membantu Noorsyaidah agar bisa sembuh dari penyakit langka itu. "Saya pasti tindaklanjuti. Habis ini saya akan hubungi orang di Kaltim untuk menindaklanjuti. Saya juga ingin tahu apa sebenarnya yang dialami ibu itu," kata Siti Selasa (8/7).

Siti mengaku belum mengetahui secara pasti karena tidak mendapat laporan dari pejabat pemerintahan terkait di Kaltim. Karena itu, terhadap fenomena itu, Siti mengaku belum berani berkomentar banyak. Meski ia juga seorang dokter, Siti tidak bisa menjelaskan secara medis apa yang dialami Noosyaidah. Ia hanya meminta agar Noorsyaidah kembali dibawa ke dokter.

"Dokter bilang sakit apa? Belum pernah dibawa ke dokter kali, cepat bawa ke rumah sakit," katanya.

Tidak hanya itu, Siti yang masih penasaran juga meminta wartawan Tribun Kaltim untuk mengirimkan SMS yang berisi nama dan alamat lengkap Noorsyaidah ke ponselnya. "Nanti saya lihat beritanya di online. Tapi saya minta tolong kirimkan nama dan alamat lengkapnya ibu itu di Samarinda ya. Nanti akan saya tindaklanjuti," katanya.

Senada dengan Menkes, Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Tarmizi Abdul Karim merasa kasihan dengan nasib Noorsyaidah. Ia bahkan akan melihat langsung kondisi warga yang kini tinggal di Jl Merdeka III, Samarinda Ilir itu. Saya belum tahu kapan jadwal pastinya, tapi saya memang harus melihatnya langsung kondisi dia (Noorsyaidah, red) karena saya secara pribadi sangat kasihan melihatnya yang harus menderita dengan penyakit aneh seperti itu," kata Tarmizi, kemarin.

Selain ingin melihat langsung, Pj Gubernur yang baru menjabat selama kurang lebih enam hari ini akan segera melakukkan koordinasi dengan instansi terkait yakni Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, untuk segera mengambil langkah-langkah yang dapat memberikan kesembuhan kepada Noorsyaidah.

"Penyakit yang diderita Ibu Noor itu memang harus segera dicarikan solusi penyembuhannya, tak bisa dibiarkan seperti itu. Mudah-mudahan besok (hari ini, red) saya sudah bisa langsung berkoordinasi dengan Dinkes, dan tidak perlu menunggu saya harus melihat langsung, tapi bagaimana Dinkes bisa bertindak cepat mengatasinya," ujarnya.

Apakah akan ada bantuan khusus buat Noor, misalnya perobatan? Tarmizi belum bisa mengomentarinya, karena menurut dia, semua harus melalui koordinasi dengan instansi-instansi terkait. "Secepatnya pasti ada bantuan buat Ibu Noor itu, bahwa bentuknya apa, itu masih menunggu hasil koordinasi saya, termasuk bagaimana nantinya setelah saya melihat langsung kondisinya," terangnya. (Abduh Kuddu/Muhammad Khaidir)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau