Ke Yogya, Jangan Lupa Dawet Kalasan

Kompas.com - 09/07/2008, 09:17 WIB

SETIAP musim liburan seperti sekarang ini, Yogyakarta selalu penuh oleh wisatawan domestik dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Sebagian besar adalah mereka yang berasal dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya dan kini tinggal di kota-kota lain, tetapi tak sedikit pula orang luar Yogya dan sekitarnya yang sengaja berlibur ke Yogya.

Malioboro adalah tujuan utama wisatawan, karena rasanya memang belum sampai Yogya kalau belum ke Malioboro. Padahal, Malioboro dari dulu ya begitu-begitu saja: pedagang kaki lima memenuhi emperan toko di sepanjang sisi barat jalan, Pasar Beringharjo dengan batik murahnya, mal Malioboro sebagai ikon modernitas baru, serta warung lesehannya yang mahal dengan gangguan pengamennya yang datang silih berganti.

Meski begitu, Malioboro memang selalu menarik. Menyusuri emperan toko yang padat pedagang kaki lima, keluar masuk toko yang dari dulu rasanya tak berubah, atau berjalan beringsut-ingsut di antara becak dan delman justru menjadi keasyikan tersendiri yang selalu ngangeni. Eh… siapa tahu dapat barang bagus tapi murah.

Lebih penting dari itu, sebenarnya Malioboro lebih sebagai tempat menyalurkan romantisme masa muda bagi banyak orang yang pernah tinggal dan besar di Yogyakarta dan sekitarnya.

Nah, kalau Anda kebetulan berlibur di Yogya membawa kendaraan sendiri, tentu saja banyak tempat yang bisa Anda kunjungi untuk memuaskan romantisme itu. Ada candi Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Samas, Baron, sampai Kaliurang di lereng Merapi. Hampir di semua jalur menuju kawasan wisata itu sekarang banyak warung yang bisa membawa Anda bernostalgia ke masa lalu.

Salah satu yang boleh dicoba adalah dawet Kalasan. Ini memang bukan warung makan untuk mengenyangkan perut, tetapi sekadar tempat mampir melepas dahaga saja. Lokasinya hanyalah di pinggir jalan, tepatnya di jalur lambat Prambanan Yogya, persis di seberang bong supit Bogem yang terkenal itu.

Di sana ada berjejer-jejer pedagang dawet atau cendol bagi orang Jakarta. Tetapi ada dua yang menarik. Mereka tidak menjual dawet beras seperti kebanyakan cendol yang sekarang dijual di Jakarta, baik dawet ayu dari Banjarnegara, cendol Bandung, atau cendol-cendol dari daerah lain yang banyak dijajakan di Jakarta. Dawet bikinan Pak Sumardi dan seorang rekannya terbuat dari pathi atau tepung aren.

Berbeda dengan dawet dari bahan baku beras yang lembek dan mblenyek, dawet aren bikinan Pak Sumardi lebih kenyal. Warnanya bening, sehingga terkesan bersih.

Tak heran kalau warung Pak Sumardi hampir selalu penuh. Pembelinya pun orang-orang bermobil, meski banyak juga yang bersepeda motor. Dari plat nomornya, pembeli banyak pula yang datang dari luar Yogya-Solo yang mungkin sedang berlibur.

Pak Sumardi yang asli Dusun Bogem, Kelurahan Nengahan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, itu mengaku sudah berdagang dawet aren di sana sejak 25 tahun lalu. “Meneruskan usaha bapak,” katanya.

Sehari ia bisa menghabiskan 25 kg tepung aren untuk membuat cendol. Kalau hari libur Sabtu-Minggu atau di musim liburan seperti sekarang, sehari ia bisa menghabiskan 35 kg tepung aren.

Berapa keuntungan yang didapat Pak Sumardi dari berjualan dawet aren? Ia enggan menajwab, tetapi dalam sehari minimal dia mendapat penghasilan kotor Rp 400.000-an. Kalau liburan seperti sekarang bahkan bisa Rp 500.000 sampai Rp 600.000.

Proses pembuatan dawet aren sama saja dengan cendol lain. Tepung aren direbus sambil terus diaduk-aduk, lalu disaring. Itu saja.

Kalau Anda kurang suka dawet aren, tak jauh dari tempat mangkal Pak Sumardi juga ada pedagang dawet ayu. Kalau kebetulan Anda sudah terlanjur mau pulang ke Jakarta ada juga dawet item di Kutoarjo.

Dawet item menggunakan tepung beras sebagai bahan baku, tetapi untuk pewarnaannya digunakan jerami tanaman padi. Rasanya juga enak, meski untuk lidah saya dawet aren lebih nikmat.

Dawet memang minuman tradisional sejak zaman baheula. Di Yogya dan sekitarnya saat ini juga banyak dijual. Umumnya bahan yang digunakan beras, tetapi sebenarnya dawet atau cendol bisa dibuat dari bahan tepung apa saja.

Waktu saya kecil banyak dijual dawet ganyong. Bahan bakunya dari tepung ganyong, sebuah tanaman mirik lengkuas tapi warna akar umbinya agak ungu. Seratnya kasar. Nah dawet ganyong ini lebih kenyal. Penjualnya biasa memberi buah nangka sebagai pengharum aroma.

Selain dawetnya yang berupa cendol, pedagang biasanya juga menyediakan jenang ganyong. Antara dawet/cendol dengan jenang itu sebenarnya ya sama saja rasanya. Bedanya, cendol berukuran kecil-kecil sebagai hasil saringan, sementara jenang berupa prongkolan atau irisan besar-besar seperti halnya hungkue atau kue lapis.

Biasanya, dalam semangkuk dawet ganyong itu, dulu pedagang selalu menambahkan satu iris jenang ganyong sebagai bonus. Sayang, dawet ganyong itu sekarang sangat susah didapat. Saya sudah berkeliling sampai ke sawah-sawah di sekitar Bantul, Klaten, dan Wonosari, tetapi belum nemu juga. Ada yang punya informasi?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau