Pimpinan Parpol Pasrah Dapat Nomor Berapapun

Kompas.com - 09/07/2008, 14:43 WIB

JAKARTA, RABU-Sejumlah ketua umum partai politik mengaku pasrah dengan nomor urut pemilu yang akan diperolehnya. Namun mereka berharap nomor yang diperoleh adalah nomor yang mudah diingat agar memudahkan pemilih pemilu mencentang tanda partai mereka.

Hal itu diungkapkan sejumlah ketua umum partai sebelum memasuki Kantor Komisi Pemilihan Umum untuk mengikuti pengundian nomor urut partai politik peserta Pemilu 2009 di Kantor KPU, Jakarta, Rabu (9/7). Pemilu 2009 akan diikuti 34 parpol. Karena itu, nomor yang akan diperebutkan parpol-parpol itu adalah antara nomor 1 hingga 34. "Nomor berapapun Kami terima, yang penting mudah diingat dan mudah dilihat," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Tanfidz Partai Kebangkitan Bangsa hasil Muktamar Luar Biasa Ancol, Muhaimin Iskandar berharap partainya dapat nomor urut 1 atau 9. Nomor 1 diharapkan karena mudah diingat, sedang nomor 9 diharapkan karena sesuai dengan jumlah bintang dalam simbol Nahdlatul Ulama yang menjadi organisasi massa basis PKB.

Proses pengundian nomor urut parpol sendiri diikuti oleh ketua umum dan sekretaris jenderal masing-masing partai. Hal ini karena sesuai undangan KPU, pihak yang berhak mengambil nomor urut partai adalah ketua umum dan sekretaris jenderal. Karena itu, acara ini diikuti banyak tokoh politik besar. Selain Suryadharma dan Muhaimin, ada Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Bulan Bintang MS Kaban, dan Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Meutia Hatta Swasono.

Selain itu, ada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa hasil Muktamar Luar Biasa Parung Ali Masykur Musa, Ketua Umum Parti Hati Nurani Rakyat Wiranto, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring, serta sejumlah pimpinan parpol lainnya. (MZW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau