Zulkifli Hasan Tak Ingin Impeach Presiden

Kompas.com - 09/07/2008, 18:45 WIB

JAKARTA, RABU - Tak lama terpilih secara demokratis untuk nahkodai pansus angket BBM, Ketua Frkasi PAN DPR, Zulkifli Hasan secara berterus terang menyatakan, belum ada dalam fikirannya untuk melakukan pemakzulan  terhadap Presiden SBY dalam melakukan penyelidikan yang akan dilakukan oleh tim pansus angket. Sementara anggota tim pansus angket dari PAN, Drajad Wibowo mengaku gembira sekaligus kecewa lantaran PKB tak masuk dalam unsur pimpinan pansus angket.

"Begitu angket masuk (disetujui DPR) sudah banyak laporan-laporan yang disinyalir soal impor dan ekspor minyak kita. Siapa yang kita anggap  perlu akan ajak kerjasama, KPK, BPK, kita welcome termasuk aparat hukum lainnya," kata Zulkifli Hasan, Rabu (9/7) usai rapat pleno yang memutuskan dirinya menahkodai pansus angket BBM.

Tegas dikatakan Zulkifli Hasan pansus angket yang dipimpinnya ini, tidak akan mengarah pada pemakzulan terhadap Presiden SBY.  "Tidak akan ada dan angket ini tidak mengarah ke impeachment. Tidak kesitu arahnya. Walapun, angket bisa saja, tapi tidak ke sana," tukasnya.

Sementara anggota pansus angket Drajad Wibowo mengaku senang bercampur gembira atas keputusan akhir ini. Ia mengaku senang karena frkasinya dipilih menahkodai pansus angket. Dan merasa kecewa  lantaran Fraksi PKB tak masuk dalam unsur pimpinan pansus angket.

"Sebagai orang PAN, saya senang karena bisa memimpin pansus angket ini. Moga-moga bisa memberikan hasil terbaik. Kalau sampai main-main PAN akan terkena dampaknya. Yang saya kecewa karena PKB tak masuk dalam unsur pimpinan. Bagi saya, PKB yang berhak masuk dalam unsur pimpinan dari pada PPP," sesal Drajad Wibowo.

Drajad menjelaskan, terpilihnya Zulkifli Hasan tak lain karena komporomi yang dilakukan antara PDI Perjuangan dan Golkar. Kedua partai ini, sama-sama sepakat melepas keinginannya untuk memimpin pansus angket sehingga memilih PAN sebagai solusinya. "Hasil kompromi untuk menghindari deadlock," tukas Drajad.

Ketua Fraksi PKB, Effendy Choirie atau Gus Coi kepada wartawan mengaku tidak kecewa, tidak ada anggota frkasinya yang masuk dalam unsur pimpinan. Apa yang sudah dihasilkan, diakuinya sudah sesuai dengan tatib yang ada.

"Ketiga partai yakni, PKB, PAN dan PDIP, merupakan partai pengusul hak angket. Kami  sudah sepakat bahwa bila  hak angket disetujui, maka fraksi salah satu partai tersebut yang akan menjadi ketuanya. Memang idealnya, fraksi pengusul hak angket yang menjadi ketuanya," kata Gus Coi.

Gus Coi mengaku mendukung Bambang Wuryanto dari PDI Perjuangan karena diharapkan fraksi pendukung hak angket seperti FKB FPDIP dan FPAN akan  solid dalam menuntaskan angket BBM ini.

"Akan tetapi, hasilnya beda. Hasil voting akhirnya memilih Zulkifli Hasan, tidak masalah. Yang jelas masih dari fraksi pengusul angket BBM dan masih ada harapan untuk menuntaskan angket BBM ini," tukasnya. (persda network/yat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau