Golkar Ubah Pola Pencalonan

Kompas.com - 09/07/2008, 19:54 WIB

JAKARTA, RABU- Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Syamsul Mu'arif menyatakan, Partai Golkar akan mengevaluasi sistem dan pola lama pencalonan pimpinan daerah dalam setiap pemilihan langsung kepala daerah (pilkada) yang diselenggarakan di provinsi maupun kabupaten dan kota.

Sistem dan pola baru yang akan dievaluasi adalah melalui sistem uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test bagi setiap calon pasangan yang diusung Partai Golkar. Evaluasi dilakukan menyusul kekalahan berturut-turut calon yang diusung Partai Golkar di sejumlah pilkada, khususnya di Bali dan Maluku, Rabu (9/7) ini.

Hal itu diutarakan Syamsul Mu'arif menjawab pers, saat ditemui seusai mendampingi Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla menghadiri undian nomor urut peserta pemilu 2009 di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (9/7) sore.

"Sistem dan pola yang lama dalam pilkada untuk pasangan Partai Golkar adalah melalui konvensi dan survei. Namun, dengan perkembangan dan dinamika yang berkembang ini, sistem dan pola pemilihan calon diubah. Sekarang sedang dikaji dengan pola fit and propert test, sehingga calon pimpinan daerah yang diajukan benar-benar tak hanya dikenal di partai. Tetapi, juga oleh pemilih," ujar Syamsul.

Menurut Syamsul, sistem dan pola pencalonan pasangan pimpinan daerah dari Partai Golkar terus berkembang. "Dulu, ada konvensi yang merupakan peninggalan DPP Partai Golkar yang lama di zaman Pak Akbar Tandjung, di mana daerah yang menang Partai Golkar, di situ ketua DPD Partai Golkar menjadi calon kepala daerah. Namun, itu kemudian berkembang dengan sistem survei. Sistem survei juga berkembang lagi sehingga sekarang harus menggunakan sistem dan pola fit and proper test," jelas Syamsul.

Tentang kekalahan di Bali dan Maluku, Syamsul berkelit, karena meskipun kalah di tingkat provinsi. Namun, ia mengatakan Partai Golkar menang di tingkat kabupaten dan kotamadya. "Jadi, kemenangan Partai Golkar masih 42 persen secara nasional," lanjut Syamsul.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau