Carolina, Malaikat Kecil Pengubah Cassano

Kompas.com - 10/07/2008, 08:39 WIB

TAK ada lagi kata-kata umpatan yang sering keluar dari mulut Antonio Cassano. Makin jarang pula orang melihat tingkah aneh atau ugal-ugalan pemain Sampdoria yang dikenal anak bengal (bad boy) itu.

Bahkan, selama semusim dalam masa pinjaman di Sampdoria, dia terkesan semakin dewasa dan tenang. Kesan bengal, urakan, dan keras seperti yang dia pertunjukkan semasa membela AS Roma atau Real Madrid, seolah sudah hilang sama sekali.

Ada apa Cassano? Yah, pemain berjuluk Peter Pan itu memang berubah. Dia ingin meninggalkan segala kebengalan dan kekasarannya yang telanjur menjadi citranya. Dia ingin menjadi pemain bola yang benar-benar profesional, juga pribadi yang dewasa.

Sebuah perubahan luar biasa. Sebab, sebelumnya banyak orang yang sulit menangani dirinya. Bahkan, Fabio Capello yang katanya mampu menanganinya, juga pernah dibuat kesulitan.

Lalu, tokoh di balik perubahan drastis pribadi Cassano itu? Dia adalah Carolina Marcialis yang oleh Cassano dianggap sebagai malaikat kecil. Gadis berumur 17 tahun itu cinta, hidup, dan harapan Cassano. Dia begitu mencintai pemain polo air itu dan bersedia berubah demi cintanya.

"Dia telah mengubah hidupku. Aku sangat mencintainya," kata Cassano. Bahkan, Cassano juga setia mendampingi Carolina dan selalu menyaksikan pertandingannya sebagai ujud cinta dan dukungannya.

Dalam wawancara dengan majalah Italia, Chi, Cassano mengaku menemukan kedamaian bersama Carolina. "Aku mencintai malaikat kecil itu dan bersedia melakukan apa saja demi dia. Aku tak ingin mengecewakannya," kata Cassano yang lebih tua delapan tahun dari Carolina Marcialis.

Carolina merupakan pemain andalan klub polo air Diavolina Nervi. Cassano begitu emosional jika menyaksikan dia bertanding. Cassano tak pernah ragu mengekspresikan kesedihan atau kegembiraan mana kala menyaksikan langsung permainan Carolina.

Cassano menambahkan, dia sekarang sangat bahagia di samping Carolina. "Jika tidak berada di Genoa, aku ragu hubungan kami bisa berakhir. Dan, aku pikir cinta ini tak akan pernah berakhir," katanya.

Maka, dia sangat berharap tetap menjadi pemain Sampdoria yang memang bermarkas di Genoa. Dia pernah takut jika diambil kembali oleh Real Madrid. Sebab, itu berarti dia bakal terpisah dengan malaikatnya. Untungnya, Sampdoria memperpanjang kontraknya dan menjadikannya pemain permanen klub itu.

Begitu dipinjam Sampdoria musim lalu, Cassano belum betul-betul berubah. Dia masih seorang anak bengal. Terbukti, ketika melawan Torino, dia mendapat kartu merah. Cassano kecewa dan marah, kemudian melepaskan kausnya dan melemparkannya kepada wasit. Tak hanya itu, dia juga mengumpat sang wasit hingga akhirnya mendapat hukuman tak boleh bermain selama lima pertandingan.

Namun, itu sebelum dia bertemu Carolina Marcialis. Tak disebutkan kapan dia bertemu dan berpacaran dengan gadis kecil itu. Yang pasti, dia telah membawa perubahan besar dalam hidup Cassano. Bahkan, bagi Cassano, dia adalah malaikat kecil yang membawa kedamaian. Berkat malaikat kecil itu pula, Cassano menjadi lebih dewasa dan tamppil semakin bagus. Bahkan, timnas Italia pun kembali memanggilnya dan dia tampil diEuro 2008.

Musim-musim berikutnya, di dampingi sang malaikat itu, permainan Cassano mungkin bakal lebih baik. (HPR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau