Melongok Usaha Knalpot Hemat BBM

Kompas.com - 10/07/2008, 08:46 WIB

Sudah sejak 30 tahun lalu, Muhadjirin, pria asal Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah bergelut dengan desing suara knalpot. Maklum, kampung halamannya memang terkenal sebagai sentra industri knalpot kelas rumah tangga di salah satu daerah bekas Karesidenan Banyumas itu.

Namun, knalpot buatan Muhadjirin bukanlah sembarang pipa gas buang kendaraan. Soalnya, kalau cuma knalpot ecekecek, pastilah bikers yang tergabung dalam beberapa klub sepeda motor tidak akan menjadi pelanggan tetapnya. Sebut saja Jakarta, Tiger Club (JTC), Thunder Club (TC) 125, Rider Association of Tiger Revolution (Ranger), Pulsar Owner (Power), sampai Manado Tiger Club (MTC) tercatat sebagai pelanggan tetap knalpot buatan pria paruh baya ini.

Muhadjirin berhasil membuat knalpot yang digadangnya bisa menghemat bahan bakar minyak (BBM) sampai 30 persen ketimbang kendaraan yang menggunakan knalpot biasa. Tentunya, ini merupakan kabar gembira bagi para pengguna kendaraan roda dua atau empat, mengingat harga BBM yang semakin mahal belakangan ini.

Bukan itu saja, Muhadjirin menjanjikan knalpot yang diberi nama Jet Hot Auto Muffler ini mampu mendongkrak tenaga sepeda motor atau mobil yang menggunakannya sampai 20 persen. Jadi, selain irit bensin, knalpot ini bisa memacu kendaraan.

Knalpot kebanggaannya hasil riset kecil-kecilan yang dilakukan Muhadjirin sejak 2005 lalu. Kalau dibanding knalpot standar, knalpot berbahan dasar stainless steel ini sangat unik.

Meskipun sama-sama memiliki satu silencer besar, namun Muhadjirin hanya menyekatnya menadi dua "kamar". Tidak seperti knalpot standar yang disekat menjadi empat "kamar". Nah, di ujung dua kamar di dalam silencer itu ditambahkan pipa ukuran 1 inci yang keluar masuk setengah lingkaran dari silencer.

Dijamin lima tahun

Logikanya, kalau sekatnya terlalu banyak, sirkulasi gas buang jadi tidak lancar. "Jadi, prinsip kerja knalpot saya hanya memperlancar aliran gas buang," kata Muhadjirin. Lalu untuk menambah tenaga, ia sengaja memutar kembali gas buang yang keluar dari "kamar pertama" ke kamar "kedua" melalui pipa penghubung di luar silencer, lantas diteruskan ke corong pembuangan selebar 1,5 inci.

Kelihatannya, memang tidak masuk akal. Bagaimana bisa sebuah knalpot menghemat BBM. Biasanya, sebuah knalpot bisa menambah tenaga justru berefek samping memboroskan penggunaan BBM.

Muhadjirin mengaku, sebuah . tabloid otomotif terkemuka pernah melakukan uji coba keiritan BBM atas knalpot buatannya. Hasilnya, dengan menggunakan knalpot Jet Hot, si motor matik bisa menempuh jarak 54 kilometer dengan hanya 1 liter bensin. Sementara, dengan knalpot standar hanya bisa menempuh jarak 48 kilometer.

Kalau masih belum percaya juga, Muhadjirin akan memberikan garansi selama lima tahun bagi pembeli knalpot buatannya itu. Ditambah lagi, satu tahun garansi untuk knalpot berbahan galvanis. "Pelanggan saya suruh coba dulu ganti knalpot. Kemudian setelah terpasang, saya minta injak gas. Kalau tarikannya enggak berasa, enggak perlu bayar," katanya.

Muhadjirin membanderol Jet Hot dengan bermacam harga. Untuk knalpot mobil, harga satu buah knalpot Rp 1 juta. Untuk motor sport dan motor gede, harganya Rp 600.000. Terakhir, untuk motor bebek dan matik, harganya Rp 400.000.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan bengkelnya yang terletak di bilangan Patal Senayan, Muhadjirin mendatangkan langsung si Jet Hot dari bengkel knalpot miliknya di Purbalingga. Meskipun 18 pekerjanya di sana sebagian besar masih mengerjakan knalpot ini secara manual, namun ia mengaku mampu memproduksi 1.000 knalpot setiap bulan. Untuk membuat knalpot sebanyak itu, setidaknya ia butuhkan 1 ton plat stainless steel dari Surabaya dengan harga Rp 30.000 per kilogram.

Uniknya, Muhadjirin tidak hanya melepas Jet Hot ke Jakarta. Sebagian besar justru dilempar ke bengkel-bengkel knalpot di Sumatra dan Kalimantan. Bahkan Muhadjirin sudah memilik jalinan kerjasama dengan 80 agen di Medan, Bukittinggl, Palembang, Jambi, Lampung, Makassar, dan Samarinda. "Saya kasih jaminan keuntungan 200 persen pada mereka. Maka, omzet saya per bulan bisa sampai Rp 120 juta. Kalau dari bengkel Jakarta, hanya sampai RP 25 juta," tambahnya.

Muhadjirin mengaku, saat ini sedang mengurus paten knalpot hemat BBM miliknya itu. (Gentur Putro Jati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau