Kepiting Saus Tiram untuk Terpidana Mati

Kompas.com - 10/07/2008, 11:27 WIB

SURABAYA -Harapan terpidana mati Sugeng untuk bertemu ibu kandungnya Sumiarsih, yang juga terpidana mati, tampaknya akan terwujud menjelang pelaksaan atau eksekusi hukuman mati bagi keduanya.    

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim selaku eksekutor memberi lampu hijau pertemuan dua pelaku pembunuhan empat anggota keluarga Letkol Mar Purwanto pada 13 Agustus 1988 itu.

Kemarin, sejumlah pendeta dari berbagai gereja mengunjungi Sumiarsih di Lapas Sukun, Malang sejak pukul 10.00 WIB. Lantas dilakukan beberapa kebaktian di gereja Lapas. Acara itu antara lain diisi oleh pendeta Lydia Lukas dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl Dukuh Kupang Surabaya.

“Kami membawakan makanan kesukaan Ibu Sumiarsih yaitu Kepiting Saus Tiram, kue Spiku dan buah anggur,” tutur pendeta Rony Daud dari GBI Rock Malang, yang mendampingi Timotius, sambil menunjukkan kotak-kotak makanan.

Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jatim I Made Suratmaja, SH memastikan akan memenuhi permintaan itu asalkan disampaikan tiga hari menjelang eksekusi. “Permintaan itu bisa menjadi yang terakhir,” kata Made saat dikonfirmasi, Rabu (9/7).

Hingga kemarin, Made mengaku belum menanyakan permintaan terakhir kedua terpidana tersebut karena belum waktunya. Pernyataan Made ini memastikan bahwa proses eksekusi tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu tiga hari ke depan atau dalam pekan ini. Apalagi, kondisi di lapangan juga belum memungkinkan karena belum diadakan rapat dengan pihak-pihak terkait eksekusi seperti kepolisian (Polda Jatim), tenaga medis dan Departemen Agama.

Meski demikian, Made mengindikasikan eksekusi itu tidak akan sampai menunggu berminggu-minggu lagi. Tanda-tandanya, relaas (salinan) putusan penolakan grasi dari Presiden sudah disampaikan kepada Sumiarsih kemarin. Biasanya, eksekusi mati tinggal menunggu hari jika salinan putusan upaya hukum terakhir telah disampaikan pada terpidana.

Kabarnya, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jatim Purwosudiro SH sendiri yang menyampaikan relaas itu ke Sumiarsih di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Kelas 2, Sukun, Malang.

 Informasi yang diterima Surya, Purwosudiro datang bersama dengan Asisten Intelijen (Asintel) AF Dharmawan, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Sriyono SH dan Kasi Penerangan Hukum dan Humas Mulyono, SH MH.   

Namun kabar itu dibantah Made. Dia membenarkan kedatangan rombongan Kajati ke Malang, namun bukan untuk bertemu Sumiarsih. Relaas putusan itu disampaikan oleh staf Kejari Surabaya.

Terkait adanya permohonan penangguhan eksekusi yang diajukan kuasa hukum Sumiarsih, Sutedja Jayasasmita SH, Made memastikan pihaknya tidak akan menangguhkan eksekusi karena tidak ada alasan yang memungkinkan ditangguhkan.

Made bahkan memastikan persiapan untuk eksekusi ini semakin matang. Dan dia sudah memiliki pandangan tentang lokasi eksekusi.

Diakui Made, saat ini ada tiga alternatif lokasi eksekusi. Tempatnya dimungkinkan tertutup, dalam arti bukan tanah lapang. Hanya saja di mana, Made menolak membocorkan dengan alasan menghindari gangguan, hambatan, dan kemungkinan penggagalan eksekusi.

“Maaf karena undang-undang membatasi saya untuk memberi informasi ini. Yang jelas nanti tempatnya tertutup. Tidak boleh ada yang tahu termasuk wartawan tidak boleh meliput,” katanya. Kepastian tempat ini baru diputuskan setelah ada koordinasi dengan Polda Jatim Jumat (11/7).

Terkait perlu tidaknya kedua terpidana dibawa ke Surabaya (Rutan Medaeng), Made mengaku keputusan itu akan ditentukan menjelang proses eksekusi dengan pertimbangan keamanan terdakwa.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) Jatim Drs Syamsul Bachri SH mengaku siap memfasilitasi jika kejaksaan akan mempertemukan Sumiarsih dan Sugeng. Syamsul bahkan siap jika pertemuan itu digelar sebelum tiga hari menjelang eksekusi asalkan disetujui oleh kejaksaan.

“Kalau memang kejaksaan meminta, ya akan kami fasilitasi. Kalau masalah gangguan keamanan, ya tentu sudah dipertimbangkan sama jaksanya,” kata Syamsul saat ditemui di kantornya, Rabu (9/7).

Menjelang eksekusi ini, Syamsul menginstruksikan kepada jajarannya yang ada di Lapas Wanita, Sukun, Malang dan Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo, untuk melakukan pengawasan intensif terhadap dua terpidana mati ini. Namun pengawasan tidak terlalu menonjol sehingga tidak membuat khawatir terpidana.

Kemarin, sejumlah pendeta dari berbagai gereja mengunjungi Sumiarsih Lapas Sukun sejak pukul 10.00 WIB. Lantas dilakukan beberapa kebaktian di gereja Lapas. Acara itu antara lain diisi oleh pendeta Lydia Lukas dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl Dukuh Kupang Surabaya.

Dalam kebaktian, Sumiarsih tampak larut. Tak jarang, tangannya menggenggam Lydia. Saat kebaktian, wanita asal Jombang ini masih mengenakan baju tahanan warna biru. Sementara di halaman parkir lapas, sejumlah pendeta lain dari GBI Rock (Representative of Christ Kingdom) dari Malang dan Denpasar juga mendatangi Lapas.

“Kedatangan ini murni keinginan kami, bukan atas permintaan dari Bu Sumiarsih atau Lapas,” tutur pendeta Timotius Arifin, gembala senior dari GBI Rock Denpasar.

Kedatangan Timotius bersama para pendeta lain dari GBI Rock adalah memberi kekuatan rohani pada Sumiarsih. Diadakan lagi kebaktian. Selama kebaktian, pendeta berusaha memberi penghiburan dan doa. Tak hanya itu, Sumiarsih juga dibawakan oleh-oleh.

Rombongan kemudian masuk ke dalam LP. Tak lama kemudian, rombongan pendeta dari Kota Malang keluar. Menurut pendeta M Sudhi Dharma, salah satu Ketua Bamag (Badan Musyawarah Antar Gereja) Jatim yang juga pendeta GBI Diaspora Sejahtera Malang, kondisi Sumiarsih sehat.

“Tadi sempat menangis. Kemudian saya tanya mengapa sampai menangis? Ternyata ia merasa bersyukur atas apa yang masih Tuhan berikan kepadanya serta perlindungan selama 20 tahun ini. Dan ia masih merasakan kasih Tuhan,” cerita Sudhi.

Menurutnya, Sumiarsih masih mempunyai semangat hidup tinggi. Ia juga tidak stress. Katanya, pihaknya tak pernah menyinggung soal rencana eksekusi  karena bukan wilayahnya. (k1/vie)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau