GOLETA, KAMIS - Tracey Johnson memegang gergaji mesin, memangkas dahan, dan meratakan semak-semak. Dia terus bekerja meski panas seolah memanggang kulitnya dan kepulan asap tebal bergerak turun menghampirinya.
Itu tugas amat berat, tetapi jauh lebih menyenangkan daripada tetap tinggal di dalam sel penjara. "Anda telah merasakan aroma kebebasan. Dan Anda dihormati," kata Johnson yang mengaku dipenjara lima tahun karena memiliki, menjual, dan mengirim kokain, Rabu (9/7).
Johnson adalah satu dari 28 narapidana perempuan yang berada di garis depan pertempuran melawan api yang melahap Los Padres National Forest di Santa Barbara, California Selatan.
Mereka terlibat dalam program kamp konservasi yang diadakan Departemen Lembaga Pemasyarakatan California. Program itu melibatkan 4.500 napi nonkekerasan yang telah dilatih memadamkan api dan menghijaukan kota. Sebanyak 350 orang di antaranya adalah perempuan.
Kebakaran hutan yang mewabah di California dan Arizona telah lama menyeret napi terlibat sebagai petugas pemadam kebakaran, khususnya saat musim panas yang mudah menyulut api di hutan. Seperti halnya California, negara bagian Arizona juga mengerahkan napi perempuan untuk tugas ini.
Tim yang disebut "kru tangan" itu merambah jalan setapak dan semak-semak, dan kadang-kadang harus berjalan berkilo-kilometer ke dalam hutan. Tugas mereka membersihkan lahan dengan luas tertentu untuk menahan api agar tidak meluas. Mereka menggunakan kapak, gergaji mesin, cangkul, penggaruk tanah untuk meratakan apa saja yang dianggap bisa memperbesar nyala api, seperti pohon, dahan dan semak-semak. Aksi itu mereka lakukan di bawah panas yang luar biasa dan di tengah udara penuh asap.
Perbedaan dengan regu pemadam reguler adalah mereka tidak boleh mengoperasikan obor yang digunakan untuk memicu api pengalih arah.
"Mereka bekerja dengan sangat luar biasa. Keuntungan bagi negara bagian ini adalah tersedianya tenaga kerja," kata Kapten Mark Seim dari Departemen Perlindungan Kehutanan dan Kebakaran California. Negara bagian ini bahkan kerap menyewa mantan napi baik laki-laki maupun perempuan.
Napi perempuan punya tugas yang sama berat dengan napi laki-laki. Meski kalah kuat, napi perempuan lebih teliti dan cermat, kata Letnan Angela R Alexander, penyelia kru pemadam Goleta.
"Jalur kami lebih bersih, itu kata mereka. Kami akan semakin sempurna," kata Kristi Smith dari Chico, pemimpin kru napi yang Selasa (8/7) lalu beraksi di sepanjang tebing Venadito Canyon untuk memperlebar jalur api.
Berseragam ketelpak oranye, helm dan sepatu bot tebal, para perempuan ini mengakui tugas itu sangat berat. Tetapi mereka bersyukur mendapat tugas itu. Mereka mendapat 1 dolar per jam dan pengampunan dua hari sebagai ganjaran kerja satu hari. Ini dua kali lebih besar ketimbang yang mereka dapat dari bekerja di penjara.
Banyak juga di antara mereka yang berpikir bahwa mereka sedang menebus dosa atas kejahatan mereka. "Saya telah salah pilih, jadi saya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang positif. Saya masih produktif," kata Tracy Violet dari San Francisco yang dihukum sembilan tahun dalam kasus pemalsuan. Ia berharap mendapat pemotongan hukuman tiga tahun dari hasil memadamkan hutan itu.
Banyak napi yang minta dilibatkan dalam tugas itu. Namun, kamp konservasi itu tidak mengikutkan pelaku kekerasan, kejahatan seks, dan pembakar. Para kru yang salah berperilaku juga akan dikirim kembali ke penjara.
Para perempuan itu biasanya berpostur kurus, tetapi berubah lebih kekar setelah sekian lama berlatih dan bekerja. "Saya belum pernah berbadan bagus seperti ini sebelumnya," kata Smith, yang dihukum 10 tahun dalam kasus penipuan.
Para penyelia mengatakan, para kru cewek itu umumnya lebih gampang ditangani ketimbang napi laki-laki karena lebih disiplin. Yang mencoba kabur saat menjalani tugas ini sangat sedikit dan itu pun pasti tertangkap. "Perempuan lebih saling mendukung," kata Alexander.
"Mereka juga lebih apresiatif terhadap hal-hal kecil. Mereka suka sampo, pelembab, dan sabun. Mereka senang beberapa hari lalu ketika seragam mereka kembali dari binatu dengan aroma Downy. Anda pikir laki-laki memerhatikan hal-hal seperti itu?" kata Alexander.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang