JAKARTA, KAMIS - Pakar komunikasi politik, dari Universitas Indonesia (UI), Effendi Gazali meyakini, baru Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang siap melakukan pertarungan pada pesta demokrasi pada Pemilu 2009. Ia menilai PDIP kini sudah memiliki modal kuat dan punya keuntungan psikologis yang besar untuk memenangkan pertarungan pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009.
Kepada para wartawan, Kamis (10/7), Effendi menjelaskan, modal sekaligus keuntungan psikologis yang dimaksud adalah kemenangan dalam pertarungan pilkada di beberapa provinsi di Indonesia.
"Orang kemudian mengatakan, betapa menjelang pemilu legislatif dan pemilihan Presiden 2009, PDIP sudah menguasai beberapa pilkada. Tampil sebagai pemenang di daerah-daerah kunci. Jawa Tengah dan Bali, mungkin sebentar lagi di Jawa Timur. Publik akan membandingkan dengan partai lain yang pada saat-saat terakhir justru mengalami banyak kekalahan," ujar Effendi Gazali.
Kemenangan itu, katanya, membuktikan kepada yang lain, kader serta mesin politik PDI Perjuangan sudah teruji. Kemenangan yang menjadi keuntungan psikologis diikat kuat, merapatkan dan menguatkan barisan.
"Kemudian bersatu ke luar menghadapi pertarungan di pemilu legislatif maupun presiden. Kalau banyak kepala daerah yang memenangkan pilkada dan segera berkiprah untuk keuntungan rakyat, seperti Rustriningsih di Kebumen, akan sangat mudah menghantarkan kembali Megawati. Jangan sampai, perilaku pasangan atau para kader yang jadi kepala daerah, hanya fokus melakukan balas jasa terhadap partai, tapi melupakan kepentingan lainnya, yang menguntungkan rakyat," katanya lagi.
Sementara itu salah satu Ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait mengatakan, kemenangan yang diraih kader maupun pasangan yang diusung partainya dalam berbagai pilkada di daerah itu dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu mesin partai, pemilihan figur atau tokoh serta strategi kampanye. Namun Maruarar mengatakan, ada varian utama yang mempengaruhi ketiga faktor tersebut.
"Figur Ibu Mega strategis sekali dalam mendorong ketiga faktor itu. Jadi, siapapun yang memerintah, bakal ditinggal pemilih kalau hanya bisa janji tanpa ada bukti. Rakyat sudah tidak butuh retorika. Rakyat butuh bukti," katanya.
Salah satu hal penting yang harus dilakukan dalam proses transformasi itu adalah dalam bentuk politik anggaran. "Anggaran yang tertuang dalam APBD itu harus pro rakyat, efektif dan produktif. Jangan hanya besar dalam jumlah alokasinya, tetapi targetnya juga harus terukur," tandas Maruarar. (Persda Network/yat)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang