KM Kelud Terkatung-katung 12 Jam

Kompas.com - 10/07/2008, 23:03 WIB

BATAM, KAMIS - Kapal Motor (KM) Kelud terpaksa menunda pelayaran selama sehari. Kapal penumpang milik PT Pelni baru bertolak dari Pelabuhan Beton Sekupang, Batam, Kamis (10/7). Seharusnya KM Kelud bertolak kemarin (Rabu, 9/7). Akibatnya kurang lebih 2.700 orang calon penumpang KM Kelud terkatung-katung selama lebih dari 12 jam.

Hingga pukul 02.00 WIB, kapal Pelni tujuan Tanjung Priok, Jakarta, itu belum juga diberangkatkan, karena masih menunggu surat perintah jalan dari Kapolda Kepri. Penyebab tertundanya keberangkatan kapal tersebut adalah adanya muatan barang (keramik) yang dinilai terlalu banyak sehingga bisa membahayakan keselamatan pelayaran. Sebab, banyaknya muatan itu telah menyebabkan kapal bernomor lambung YFOZ IMO-9139684 itu miring.

Khawatir akan keselamatan pelayaran, sejumlah penumpang mendesak nakhoda KM Kelud, Kapten R Gultom, untuk menurunkan muatan tersebut. Apalagi muatan itu tak tercantum dalam manivest pelayaran.

Meski sudah didesak, pihak KM Kelud ngotot tak mau menurunkan muatan tersebut. Para penumpang kecewa karena pihak KM Kelud lebih mengedepankan muatan barang ketimbang keselamatan penumpang.

Ribuan penumpang yang resah dan lelah menunggu keberangkatan, menyoraki para petugas kepolisian, petugas Pelni, dan para porter yang sedang menaikkan barang. Mereka juga memukul-mukul badan kapal dengan tangan mereka.

"Hidup Syah Bandar! Hidup Pelni! Nyawa kami dipertaruhkan. Jangan hanya mikirin uang saja, pikirin juga keselamatan kami," teriak para penumpang.

Kejadian ini bermula ketika penumpang resah kapal masih menunggu porter menaikkan barang. Padahal mereka telah menunggu sejak pukul 11.00 siang. Tidak itu saja, sorakan bernada ejekan dan cemoohan terus dilontarkan. Bahkan ada penumpang yang melakukan aksi turun dari kapal dengan alasan takut melihat keadaan di dalam kapal yang hampir tak menyisakan tempat untuk bergerak.

Mendengar itu, seorang petugas menyoraki para penumpang tersebut untuk diam. Penumpang membalasnya dengan menyoraki balik kepada para petugas pelabuhan yang berada di pelataran.

Puncaknya, beberapa penumpang melakukan aksi turun dan membatalkan keberangkatan mereka. Seperti yang dilakukan keluarga Merry (32), asal Jakarta. "Saya dan anak-anak ketakutan lihat sesak dan penuh penumpang di dalam. Apalagi saya merasakan kapal sudah miring, sementara ombak tidak besar. Saya takut nanti di dalam perjalanan terjadi apa-apa," ujar Merry.

Dengan terus memandangi suaminya yang sedang kepayahan menurunkan barang-barang mereka di kelas I, ibu tiga orang anak itu mengatakan, dirinya lebih baik menunda keberangkatan mereka ke Jakarta.

"Saya lebih baik menunda dan berangkat dengan pesawat besok pagi, jika melihat kondisi kapal yang saya kira sudah melebihi kapasitasnya. Kami takut kapal tenggelam," ujar Merry yang mengaku ke Batam untuk liburan.

Begitu juga dengan Ronald Sihaan (32), seorang wartawan asal Jakarta yang juga mengaku sudah menunggu keberangkatannya sejak pukul 11.00. "Saya tidak tahu lah macam mana ini. Di tiket, jadwal keberangkatannya jam satu siang, tapi kok sampai jam segini belum juga berangkat. Ini kan keterlaluan," sesal Ronald yang akhirnya memutuskan untuk berangkat menggunakan pesawat hari ini.

Ronald menuturkan, tanda-tanda akan adanya demo dalam kapal sudah terlihat saat beberapa penumpang tampak stres menunggu keberangkatan. Itu diperparah dengan aksi memuat barang-barang di tempat penumpang yang tidak mendapatkan kursi alias non seat oleh tenaga porter pelabuhan.

"Sudah lama, barang-barang yang ceritanya barang-barang keramik terus saja dimuat di tempat-tempat penumpang, terutama non seat. Sebagai penumpang, saya merasa tidak dihargai. Ini kapal penumpang atau barang sih," ketus Ronald.

Melebihi kapasitas

Para penumpang menduga kapal tersebut mengangkut penumpang dan barang melebihi kapasitas. Hal ini karena mereka melihat banyak penumpang tak memiliki tiket (non seat). Seorang penumpang mengaku mendengar sendiri ucapan Johny Siregar, Kepala Cabang Pelni Batam.

"Tadi saya dengar sendiri dari percakapan Pak Johny dengan para petugasnya bahwa banyak penumpang tidak memiliki tiket. Saya dengar sendiri lho bang," ujar Yani, seorang penumpang.

Berdasar data yang diperoleh dari Kantor Pelni di Sekupang, kapasitas penumpang KM Kelud 2.645 orang (sudah termasuk toleransi 25 persen). Dari manifest yang ada, penumpang dari Medan tujuan Jakarta sebanyak 1.400 orang. Sementara penumpang Batam-Jakarta sebanyak 1.300. Atau totalnya sudah 2.700 penumpang. Artinya, ada kelebihan 55 orang penumpang.

Kapasitas tersebut berbeda dari data yang terdapat di situs resmi Pelni, menyebutkan bahwa kapasitas KM Kelud hanya berkapasitas 2.063 penumpang. Jika ditambah toleransi 25 persen, maka kapasitas KM Kelud adalah 2.579 penumpang. Maka kelebihan muatannya mencapai 121 orang. Lantaran adanya perbedaan pendapat antara sejumlah penumpang dengan pihak KM Kelud, akhirnya Kapolsek KPPP Barelang AKP Furqon menengahi dengan mengajak kedua pihak berdialog.

Dialog itu berlangsung alot dan terjadi perang mulut antara kedua pihak. "Keberangkatan kita kemarin malah penumpangnya lebih banyak dari ini. Tidak ada masalah. Saya jamin soal keamanan perjalanannya," ujar Kapten Gultom, disambut sorakan perwakilan penumpang.

Perwakilan penumpang juga mempermasalahkan posisi kapal yang sudah miring. "Kemiringannya cuma satu derajat kok pak," jawab seorang kru kapal.

"Bapak mengabaikan kemiringan satu derajat itu. Apa Bapak menjamin hal itu tidak akan bermasalah," potong seorang perwakilan penumpang dengan nada emosi.

Setelah perdebatan alot, kedua belah pihak mencapai kata sepakat, yakni penumpang bersedia menunggu keberangkatan sampai barang-barang milik sejumlah penumpang yang membatalkan keberangkatan diturunkan. Kapten R Gultom berjanji kepada tujuh orang perwakilan penumpang untuk mengembalikan uang tiket penumpang 100 persen.

"Kami minta Pak Furqon menjamin keselamatan kami selama proses penurunan barang. Kami tidak ingin terjadi aksi premanisme dan intimidasi terhadap penumpang," ujar Robert Siahaan, perwakilan penumpang kepada AKP Furqon.

Siahaan yang ternyata juga seorang perwira polisi berpangkat AKP yang bertugas di Polres Jakarta Pusat, meminta keamanannya dijamin selama perjalanan. Sementara berdasar instruksi dari Pelni Pusat di Jakarta, meminta bantuan pengawalan petugas dari Poltabes Barelang dalam pelayaran menuju Tanjung Priok, Jakarta.

Kapten R Gultom yang dimintai komentar soal kelebihan penumpang dan muatan menyatakan itu di luar kewenangannya. "Kalau itu saya tidak tahu. Tanyakan saja pada pihak Pelni. Saya hanya bertugas mencek layak-tidaknya kapal berjalan dan untuk itu saya katakan masih layak jalan," tegasnya. (Tribun Batam/Patrick Nababan, Agung Yulianto Wibowo, Yahya Rachta)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau