Pemadaman Rugikan Industri Cirebon

Kompas.com - 11/07/2008, 20:09 WIB

 

CIREBON, JUMAT-  Pemadaman listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara secara bergilir di Cirebon berdampak pada industri rokok, salah satunya PT British American Tobacco Indonesia, yang terpaksa harus menyewa genset agar tetap bisa berproduksi. Penggunaan genset itu pun menambah biaya produksi yang seharusnya tidak diperlukan.

Direktur Corporate and Regulatory Affairs PT BAT Indonesia Lekir Daud mengatakan, Jumat (11/7), risiko yang harus ditanggung saat pemadaman bergilir adalah bertambahnya biaya produksi untuk sewa genset. Meski belum dihitung, kata Lekir, biaya itu membebani. Mengingat, perusahaan harus membeli bahan bakar minyak (solar) untuk genset dengan haarga industri.

Menurut dia, harga listrik dari PLN masih terbilang murah jika dibandingkan dengan listrik yang dihasilkan genset. "Volume produksi belum terpengaruh, namun cost produksi pasti ada. Oleh sebab itu, kami mencoba meminimalkan penurunan produksi dengan menggunakan genset. Risikonya, ongkos produksi naik," ujar Lekir.

Mengenai kesepakatan bersama lima menteri tentang pemindahan hari kerja menj adi Sabtu dan Minggu, Lekir menegaskan sangat sulit diimplementasikan. Sebab, belum ada aturan yang jelas dari pemerintah untuk menghitung upah kerja pada hari yang seharusnya digunakan pekerja untuk libur. Masalah kedua, belum tentu pekerja bersedia seti ap akhir pekan bekerja.

Di tempat terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Cirebon Oman Syahroman mengakui, pemadaman listrik bergilir selama 1,5 bulan terakhir telah menyebabkan efektivitas usaha terganggu. Sebab, produktivitas menjadi turun sedangkan biaya produksi membengkak, terutama p ada industri skala rumahan dan kecil. Kebanyakan, industri kecil di Cirebon tidak memiliki sumber energi alternatif, yaitu genset untuk mendukung usahanya, sehingga produksi terhenti dan produktivitas menurun.

Upaya pendekatan kepada PLN telah dilakukan Kadin dengan meminta pemadaman listrik tidak dilakukan di sentra atau kawasan industri kecil di Cirebon, seperti di Plered, Tegalgubug, Tegalwangi, Losari, dan Plumbon. Sayangnya, permintaan lisan itu ditanggapi dengan jawaban klasik, bahwa pemadaman bergilir harus tetap dilakukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau