Musik

Perayaan Rock Lintas Generasi

Kompas.com - 13/07/2008, 03:00 WIB

Susi Ivvaty

Bagaimana jika grup rock yang dianggap ”legendaris” semacam Gang Pegangsaan, Elpamas, Shark Move, dan Noor Bersaudara ”beradu” dengan Koil, serta grup-grup underground yang diawaki anak-anak muda? Inilah perayaan musik rock lintas generasi.

Lebih dari 100 grup rock manggung lewat ajang Jakarta Rock Parade, 11-13 Juli 2008 di Tennis Indoor & Outdoor Senayan, Jakarta. Sesuai dengan namanya, Jakarta Rock Parade ingin menyuguhkan parade berbagai jenis aliran rock dan komunitas musik rock di dalam satu ajang berkonsep multiconcert dan multistage. Ini semacam festival mirip Java Jazz Festival kalau untuk musik jazz.

Panitia mendirikan empat panggung di seputaran Tennis Indoor Senayan dan satu-persatu grup band secara mengalir naik ke panggung. Satu grup tampil selama 15-30 menit sebelum digantikan band lain.

Grup yang tampil di antaranya Nidji, The Changcuters, Pas Band, The Upstair, Superglad, Killed by Butterfly, Dead Squad, dan Bite. Parade yang dipromotori PT Bagawanta Intra Ganendra (BIGanendra) ini juga mendatangkan beberapa grup dari luar negeri, seperti The Tielman Brothers.

Grup asal Maluku yang menetap di Belanda terdiri dari Andy Tielman dan kawan-kawan ini dikenal kerap tampil sambil melompat-lompat atau berguling-guling sambil memainkan gitar. Grup tersebut tampil Sabtu (12/7) malam.

Pada Minggu (13/7), yang menjadi hari terakhir parade, tampil grup band antara lain VooDoo, Naif, Elpamas, Zeke & The Popo, Pure Saturday, Mono, serta grup band dari Italia, Brandon Ashley & The Silverbug. Pertunjukan dimulai pukul 15.00 dan berakhir tengah malam.

Kembali lagi

Kehadiran grup seperti Noor Bersaudara atau AKA yang berjaya pada tahun 1970-an mengingatkan pada perkembangan musik ini dari dekade ke dekade. Pada 1970-an, grup seperti God Bless atau AKA kondang lewat pentas di panggung, tetapi tidak sukses di rekaman. Malam itu AKA sempat menghadirkan kenangan 1970-an dengan ”Badai Bulan Desember”.

Produser dan promotor konser rock Log Zelebour mencatat, penjualan album God Bless dulu hanya mencapai 10.000 keping. Pada masa jaya God Bless pada tahun 1980-an, yang mengusung album Semut Hitam, penjualan mencapai 300.000. Bandingkan dengan Jamrud yang bisa mencapai dua juta keping untuk penjualan album Ningrat pada tahun 1990-an.

Munculnya Noor Bersaudara, dengan personel inti Raidy Noor, Firzy Noor, Nana Noor, Harry Noor, dan Ranny Trisutji seakan mengajak penonton kembali ke zaman 1970-an. Mereka menyanyikan enam lagu, yakni ”Ruby Tuesday” dari The Rolling Stones, ”Harapan nan Gersang”, ”Cinta yang Hilang”, ”Bye Bye”, serta dua lagu dari The Beatles, ”Drive My Car” serta ”Tell Me Why”.

Firzy mengakui, Noor Bersaudara ingin kembali ke panggung musik dan rekaman. Satu bulan ke depan, album baru bertitel The Light berisi 10 lagu akan beredar di pasaran. Memang berisi sembilan lagu lama dan sebuah lagu baru ”Bye Bye”, tetapi Noor Bersaudara mengaransemen ulang dengan sangat berbeda.

”Karakter kami, kan, pada harmoni vokal dan aransemen progresif. Misalnya, kami mengobrak-abrik lagu The Beatles,” kata Firzy.

Grup lain, Shark Move, dengan personel Benny Soebardja dan kawan-kawan tampil membawakan enam lagu, di antaranya ”Manusia Modern”, ”Bingung”, dan ”Hitam Putih”. Sementara Gang Pegangsaan dengan awak antara lain Oding, Keenan, dan Harry Sabar menyanyikan delapan lagu, termasuk hits ”Dirimu” dan ”Negeriku Cintaku”.

Grup rock yang sukses pada akhir tahun 1980-an, Slank, tidak ikut serta dalam parade ini. Padahal, Slank adalah penanda. Generasi Slank menanjakkan pamor rock hingga pada tahun 1990-an ketika jenis musik ini masuk ke layar kaca. Lantas diikuti Jamrud, Power Metal, Edane, dan Boomerang.

Kini banyak grup rock muncul, khususnya lewat jalur indie, enggan masuk ke label arus utama (mainstream). Gribs, grup rock yang dibentuk pada tahun 2005, ikut tampil di dalam parade ini, membawakan enam lagu. Grup ini belum menelurkan album, tetapi sudah kerap manggung di berbagai acara.

Agaknya, BIGanendra mau menggandeng semua generasi rock ke dalam satu panggung. ”Ini adalah apresiasi terhadap musik rock Indonesia yang cukup dominan dalam sejarah perkembangan musik di Indonesia. Indonesia adalah salah satu kantong rock terbesar di Asia,” kata Direktur Jakarta Rock Parade Jimmy Johansyah.

Sulitnya menjual rock

Lepas dari niatan baik itu, parade ini ternyata tidak bisa mengumpulkan para pencinta musik rock yang sebenarnya sangat besar. Pada hari pertama, konser bisa dibilang sepi, nyaris tak ada penonton. Noor Bersaudara dan Shark Move, misalnya, hanya ditonton oleh sekitar 50 orang.

Di panggung lain, Pas Band tampak paling ditumpahi penonton. Itu pun jumlahnya tidak mencapai 500 orang. Banyak pihak menduga, harga tiket Rp 200.000 sehari terlalu mahal buat penonton rock yang lebih banyak menonton pentas gratisan. Bandingkan jika Koil atau Burger Kill manggung tanpa menarik karcis. Penggemar yang datang bisa mencapai ribuan orang.

Log menengarai, menjual rock dalam bentuk konser atau festival bukan hal mudah. Harus ada konsep jelas, jangan asal mengundang sebanyak-banyaknya grup. Untuk tiket Rp 200.000, grup band yang digandeng harus ada yang kondang dan besar. Gang Pegangsaan melegenda, tetapi banyak orang sudah lupa. Tanpa promosi, mustahil bisa mengumpulkan orang. Dan, tanpa sponsor, mustahil menutup biaya penyelenggaraan.

”Penonton rock di Indonesia masih kelasnya membayar Rp 20.000 atau gratis. Kalau ada grup besar seumpama Iron Maiden, barulah ada magnet,” terang Log. Setidaknya, grup band yang diundang harus sudah punya massa setidaknya 3.000 orang, dengan catatan tiket jangan terlalu mahal.

Padahal, jika mau dihitung-hitung, angka Rp 200.000 dibagi 33 grup sehari hanya sekitar 6.000. Artinya, penonton hanya membayar sekitar Rp 6.000 untuk satu grup. Ironis memang. Jadi ingat teriakan vokalis satu grup yang tampil, ”Hallo everybody... out there.... Thanks you for not coming....” Begitulah showbiz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau