Mendulang Rezeki dari Kampanye

Kompas.com - 14/07/2008, 06:24 WIB

Awal masa kampanye yang dimulai dengan pemasangan atribut partai menjadi momen yang dimanfaatkan oleh berbagai pedagang atribut partai, seperti di daerah pasar Senen, Jakarta Pusat. Beberapa kios pedagang kaos dan sablon di Pusat Perdagangan Senen tampak ramai setiap hari kecuali hari libur.

Mereka yang biasanya berjualan kaos biasa saat mendekati kampanye yang berlangsung sembilan bulan ke depan tak ingin melewatkan momen ini. Aneka atribut partai seperti kaos dan baju partai, jas,topi dan pernak-pernik lainnya. Ada juga yang menyediakan pembuatan sablon bendera, spanduk, baliho partai.

Menurut pemilik kios atribut partai Wandra Satria, rata-rata omzet selama seminggu mencapai Rp 20 juta. "Tapi itu juga tidak pasti, kalau hari Minggu seperti sekarang ya sepi, paling pengunjung toko hanya tanya-tanya aja," ujar pemilik kios Bimbi Jaya di lantai dasar Pusat Perdagangan Senen (Proyek Senen) Blok II.

Awal masa kampanye tahun ini, dikatakan Wandra, pendapatan toko memang tak sebanyak tahun lalu pada saat kampanye calon legislatif (caleg) mencapai Rp 700 juta.Pria yang sudah menekuni bisnis ini selama 6 tahun ini mengatakan keuntungan yang didapat sekitar 10-20 persen, terutama dari penjualan bendera dan kaos partai.

"Rata-rata 1000 bendera sekali pesan, kalau kaos biasanya bahan yang paling murah seperti Hijet Rp 5000 per 1000 lembar. Kita juga sediakan diskon pembelian kaos dan bendera masing-masing minimal 100 ribu lembar akan ditambah atribut topi partai," jelasnya.

Sejumlah partai yang sudah memesan beberapa atribut di kios Wandra antara lain Golkar, PDI P, PPP, PDP. Yang paling banyak pesan, kalau partai lain yakni Golkar sedangkan partai baru banyak pesanan dari partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).Ia menambahkan, persaingan dari segi harga dan kualitas bahan yang biasanya terjadi.

"Kalau dari segi kualitas bahan kaos, kita yang jenis menengah PE dan cotton dipatok Rp 7000 per lembar dan kualitas di atasnya Lacoste Rp 25 ribu. Perang harga itu terjadi biasanya saat pertengahan atau akhir kampanye," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Edwin, yang juga berjualan atribut partai di lantai dua di kawasan yang sama. "Memang kita bersaing pada kualitas bahan dan murah harganya. Di akhir kampanye, harga satuan kaos bisa Rp 3000, ini puncak momennya," ujar penangung jawab kios Sheraton II Advertising.

Ia menuturkan beberapa partai yang sudah memesan atribut parpol seperti Golkar, PPP dan PKB. Sedangkan partai baru yang juga kerap memesan bendera dan kaos partai dalam jumlah besar seperti Hanura dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)."Omzet yang masuk saat masa 4 bulan kampanye kemarin mencapai Rp 20 juta dari kiosnya. Kalau sekarang masih awal kampanye jadi ga segitulah, tapi memang ramai sekarang daripada tahun kemarin, apalagi kampanye 9 bulan," jelasnya.

Edwin yang biasanya berdagang kaos dengan tempat produksi sablon di belakang kiosnya itu menjelaskan ia ditarget sekitar Rp 5 juta per bulan. "Kios ini bagian dari cabang milik Haji Syamsudin yang punya 11 kios di Proyek Senen dan 3 kios di Tanah Abang. Yah omzet keseluruhan silakan dikalikan saja," ujar lelaki asal Padang tersebut.

Edwin menambahkan rata-rata pedagang kaos di kios pedagang Proyek Senen tidak berdiri sendiri. Biasanya satu pemilik punya beberapa kios baik di Proyek Senen maupun Pasar Tanah Abang.Sebut saja, jaringan kios Harapan Perdana milik Pendy yang juga memiliki 5 kios di Proyek Senen.

Rata-rata mereka yang satu jaringan atau grup menamai kiosnya dengan nama yang hampir mirip, seperti kelompok New Sheraton, pasti ada trademark nama itu."Disini kalau bersaing saling menjatuhkan ya bisa saja, tapi kalau satu grup gitu kan enak, per kios cuma ditarget berapa juta. Kalau di kios milik Syamsudin, pekerjanya sekitar 5 orang termasuk orang yang memproduksi kaos di bagian belakang kios," tutur pria yang sudah berkecimpung di bisnis kaos hampir 15 tahun tersebut.

Harga Bahan Kaos NaikBiasanya untuk penyedia bahan kaos sebagian besar jaringan kios di Proyek Senen tersebut didapat dari beberapa penyalur yang sudah langganan bertahun-tahun.Menurut salah satu supplier bahan kaos Joko, harga bahan kaos akan naik lagi sekitar 10-20 persen dalam beberapa bulan ke depan. "Kalau sekarang sih memang sudah naik untuk bahan Hijet tapi hanya 5 persen, belum terasa. Karena pengolahan bahannya perlu minyak bumi, nah minyak lagi naik, ya ngikut deh," jelasnya.

Joko yang sudah puluhan tahun mengelola bisnis supplier ini mengatakan, kenaikan paling tajam terjadi mulai pertengahan hingga akhir kampanye."Tapi ini kan waktunya panjang jadi mungkin harganya justru relatif stabil, karena permintaan terhadap barang kan tidak melonjak drastis. Kalau hari biasa, yah pendapatannya ga tentu, makanya mumpung lagi musim," ujar pria asal Bandung tersebut.

Ia menyediakan bahan kaos untuk beberapa jaringan kios seperti Bimbi Jaya di Proyek Senen dan Pasar Tanah Abang. "Pesanan minimal satu box sekitar 2 ton kain yang jika dibikin kaos menjadi 20 ribu buah. Kalau untuk beberapa kios ada yang minta langsung jadi bentuk kaos ya saya yang produksi di Bandung," jelasnya.

Momen kampanye Pemilu 2009, baginya, menjadi musim menangguk pundi-pundi dari beberapa boks bahan kaos yang dikirim ke jaringan kios atribut partai tersebut.Begitu pula bagi beberapa pedagang atribut partai di kios Proyek Senen, masa kampanye menjadi "berkah" tersendiri bagi mereka. Lalu bagaimana dengan partai, semoga dana yang keluar untuk kampanye tidak diminta imbal balik saat jadi penguasa. Semoga...

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau