SINGAPURA, SELASA - Harga minyak mentah di pasar Asia, Selasa (15/7) pagi, turun seiring menguatnya mata uang dollar AS. "Menguatnya dollar AS memberikan tekanan kepada minyak," tutur Victor Shum, analis energi Purvin and Gertz, Singapura, seperti dikutip AFP.
Kontrak Agustus, minyak mentah jenis light sweet untuk Agustus melemah 41 sen menjadi 144,77 dollar AS per barrel dari penutupan perdagangan di New York Mercantile Exchange, AS, Senin (14/7) waktu setempat pada 145,18 dollar AS.
Sementara itu, minyak jenis brent pengiriman Agustus juga turun 24 sen menjadi 143,68 dollar AS per barrel.
Menguatnya kembali mata uang Uwak Sam membuat harga emas hitam ini agak mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang yang lebih lemah dibandingkan dengan dollar AS sehingga berpotensi mengurangi permintaan dan harga minyak. Namun, para dealer memperkirakan, penurunan ini bersifat sementara karena adanya faktor kekhawatiran terhadap pasokan dan tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah terkait pertikaian Iran dengan Israel dan AS.
Iran merupakan penghasil minyak terbesar kedua negara-negara pengekspor minyak (OPEC) setelah Arab Saudi. "Harga minyak pada minggu-minggu mendatang masih berisiko karena masalah pasokan. Situasi soal Iran masih mengalir," ujar Shum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang