JARUM jam menunjukkan pukul 20.00 WIB, deretan depan dan tengah kursi penonton sudah mulai terisi sebagian. Gamelan melantunkan tembang (lagu) Jawa yang membawa suasana sejuk di hati.
Setengah jam berlalu, kursi di deretan tengah sudah sesak oleh penonton yang sebagian besar orang tua yang mengajak anak-anaknya. Beberapa orang terlihat masih sibuk menata posisi duduk yang nyaman sebelum tirai merah panggung terbuka lima menit lagi.
Suara gamelan yang mendayu-dayu beralih ke irama yang lebih rancak tapi tetap ritmis mengiringi tirai panggung yang berjuntai menyentuh lantai terbuka perlahan. Tepuk tangan penonton bergemuruh saat beberapa penari perempuan keluar dari dua sisi panggung dengan anggun membawakan gerak gemulai mengikuti irama gamelan.
Lakon yang dipentaskan Wayang Orang (WO) Bharata kali ini adalah Petruk Mantu yang mengangkat sisi humoris karakter Petruk dan punakawan lain. Pentas WO Bharata di Gedung Bharata di bilangan Senen, Jakarta Pusat setiap Sabtu malam memang tak sepi pengunjung.
Hal itu dibenarkan Marsam Mulyoatmojo selaku pimpinan WO Bharata yang dijumpai Kompas.com pekan lalu. "Setiap kali pentas, jumlah penonton sekitar 50 persen dari kapasitas tempat duduk 280 orang. Kalau lakonnya bagus, bisa mencapai 70-80 persen," ujar Marsam.
Pentas WO Bharata, Sabtu pekan lalu cukup memberi greget karena bertepatan dengan ulang tahun ke-36 kelompok kesenian tersebut. Berdiri dengan nama Pancamurti pada 1972, WO Bharata menggelar pentas setiap malam dengan pengunjung yang relatif ramai.
Memang diakui Marsam selama krisis 1997, pengunjung mulai menurun drastis. Sejak 1999 sudah sepi pengunjung, lalu awal 2000 gedung direnovasi, baru tahun 2005 WO Bharata pentas lagi.
"Bila dibanding dengan grup wayang orang lainnya di Semarang (Ngesti Pandawa) dan Surakarta (Sriwedari), Bharata masih termasuk paling lumayan pengunjungnya," tutur Marsam.
Menurut salah satu penonton Ami, kesenian tradisional seperti wayang orang ini mengingatkannya pada nostalgia masa kecil saat pertunjukan wayang di Surakarta, Jawa Tengah.
Ia menuturkan menonton wayang itu bukan sekedar menyimak adegan dan tarian, tapi filosofi dari tiap karakter tokoh pewayangan juga menarik untuk dicermati.
"Semua sifat manusia itu ada dalam tiap-tiap karakter wayang, bahkan dualisme sifat baik dan buruk pun terjadi. Ada juga satu tokoh yang menggambarkan sifat baik dan buruk itu sekaligus terdapat dalam kedirian manusia," ujar wanita asal Surakarta ini.
Ibu empat anak itu sengaja mengajak putra-putrinya untuk menyaksikan pertunjukan WO Bharata setiap akhir pekan. "Anak-anak saya suka nonton wayang ini bahkan hafal tiap karakter tokohnya. Kadang kalo saya enggak bisa nemeni, ya mereka pergi nonton sendiri sama kakeknya," ujar Ami.
Hiburan Tiga Generasi
Selain putra-putri Ami, terlihat di barisan agak depan, beberapa anak seusia SD juga menyimak adegan per adegan sesekali bertanya pada wanita paruh baya di sampingnya. Seusai pertunjukan, bocah bernama Raka itu mengomentari panjang lebar adegan guyon para punakawan dalam lakon tersebut.
Seperti dikatakan neneknya yang mendampingi menonton, Raka memang suka dengan tokoh punakawan terutama Semar. "Sejak diajak nonton wayang ini sama kakeknya dulu, cucu saya ini jadi ketagihan. Tapi saya seneng, mulai kecil sudah dikenalkan dengan kesenian daerah seperti ini," tutur wanita asal Yogya itu.
Siapa sangka di Jakarta yang terkenal dengan gemerlap hiburan malam, ternyata masih menyimpan permata kesenian tradisional WO Bharata yang menjadi hiburan tiga generasi.
Tak hanya penontonnya yang berasal dari tiga generasi, para senimannya pun sudah tiga generasi dengan anggota saat ini sekitar 120 orang.
"Sejak awal komitmen kami untuk melestarikan budaya ini, maka regenerasi harus jalan. Sekarang pun anak-anak yang dilatih juga cukup banyak," tutur Surip, salah satu anggota WO Bharata.
Begitulah WO Bharata terus bertahan dan tak parah arang di tengah aneka sajian hiburan ibukota di malam hari. Bharata menjadi hiburan tiga generasi dengan pesan moral yang tak lekang zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang