MAKASSAR, SELASA - Industri kakao Indonesia kini terancam hancur karena produksi yang dihasilkan selama tiga tahun terakhir terus merosot. Ketua Umum DPP Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim Razak di sela-sela diskusi produksi kakao Indonesia bersama Asosiasi Kakao se-Asia di Makassar, Selasa (15/7), mengemukakan, produksi kakao Indonesia pada tahun 2006 masih 590.000 ton, turun menjadi 530.000 ton pada tahun 2007 dan tahun 2008 ini diperkirakan tidak mencapai 500.000.
Pasalnya, tutur Halim, perkebunan kakao di Indonesia banyak diserang hama penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) serta tidak diikuti dengan upaya pemberantasan yang intensif. Menurutnya, hama PBK merusak bagian isi tanaman, tetapi hal tersebut masih dapat diatasi. VSD yang paling parah karena bisa merusak buahnya.
Hama VSD, kata kandidat wali kota Makassar ini, telah menyerang hampir 40 persen lahan perkebunan kakao di Indonesia dan yang terbanyak adalah di Sulsel. VSD yang disebabkan jamur Oncobasidium theobromae ini dapat menyebabkan kematian tanaman karena patogen berada di dalam saluran xylem sehingga menyumbat saluran makanan. Akibatnya, ranting akan menjadi mati dan tidak menghasilkan buah sehingga akan terjadi kemerosotan produksi secara drastis. "Bila kondisi ini terus berlanjut, mungkin petani hanya dapat menghasilkan sekitar Rp100 juta per tahun dengan produktivitas 400 kilogram per hektar," jelasnya seperti dikutip Antara.
Apalagi, ujarnya, kapasitas produksi penggilingan kakao di Sulsel hanya mampu mencapai 250.000 ton. "Itu pun masih terkendala masalah listrik," katanya.
Ia berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan para kakao dengan menyediakan pupuk dalam jumlah cukup dan harga terjangkau serta intensif melakukan peremajaan tanaman karena hingga saat ini penanganan hama VSD masih belum ditemukan formulanya secara teknologi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang