BANDUNG, SELASA - Pemanfaatan program buku digital yang dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan Nasional belumlah optimal. Hal tersebut disebabkan keterbatasan proses mengunduhnya serta ketidaktahuan pendidik akan program ini.
Dalam serangkaian penelusuran di sejumlah sekolah, Selasa (15/7) hampir setiap pengajar yang ditanya belum mengetahui keberadaan buku digital ini. Bahkan, termasuk oleh para guru penggiat teknologi informasi. Menurut Yani Heryani, guru anggota APEC Learning Community Builders (ALCoB), komunitas jejaring guru penggiat TIK, program itu hendaknya lebih disosialisasikan intensif.
Padahal, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan Pendidikan Salman ITB, Syamril, ST program buku digital ini sebetulnya sangatlah bagus untuk membantu siswa yang kurang mampu. Sebab, sesuai ketentuan, harga eceran buku digital jika telah diterbitkan ini tidak lebih dari Rp 20 ribu per buku. Harga buku di pasaran bisa dua kali lipatnya.
Ia mencontohkan, untuk anaknya yang baru kelas III SD, setidaknya dihabiskan dana Rp 300 ribu untuk buku di awal semester ini. Yang jadi soal, tidak setiap sekolah punya akses internet dan guru-gurunya mengerti ICT (teknologi informasi), tuturnya. Ia bepandangan, perlu ada fasilitator yang menjembatani persoalan kesenjangan digital ini . Termasuk, keikhlasan para guru yang selama ini terlibat dalam bisnis buku di sekolah.
Padahal, berdasarkan pemantauan, harga buku teks (pelajaran) di toko-toko buku saat ini justru terus meningkat. Salah satunya, seperti terlihat di pusat perbukuan Palasari. Kenaikan harga buku dari berbagai penerbit kini berkisar 15-30 persen. "Hanya Erlangga yang masih pakai harga lama. Agustus ini baru penyesuaian," tutur Yaya Cahyana, salah satu penjual buku.
Kenaikan harga buku ini disebabkan meningkatnya permintaan serta penyesuaian harga baru kertas. Menurutnya, di awal tahun ajaran baru ini, omzet penjualan meningkat hingga 20 persen. Ini menandakan masyarakat saat ini masih antusias mencari buku teks dalam bentuk konvensional.
Tahun ini, jumlah buku digital yang sudah diunggah di situs bse.depdiknas.go.id atau pusbuk.or.id sebanyak 49 judul. Masyarakat bebas mengunduh lalu memperbanyak asa l tidak melebihi harga eceran Rp 20 ribu per buku. Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas RI Fasli Jalal beberapa waktu lalu mengatakan, dalam waktu tiga minggu saja, situs yang menampilkan buku digital ini telah diakses 9 juta pengunjung di seluruh Indonesia.
Pemerintah optimis, program ini efektif menekan harga buku di pasaran hingga 50 persennya. Menurutnya, sekolah sebetulnya tidaklah perlu mengeluhkan persoalan akses internet atau keterbatasan infrastruktur. Sebab, beberapa sekolah di tanah air kini sudah tersambung jaringan internet LAN (Local Area Network ) melalui Jardiknas. Ada 20 ribu sekolah yang sudah tersambung jejaring ini. Meski, bandwith-nya masih terbatas, yaitu 150 megabit. Ke depan, bandwith ini akan ditingkatkan dengan bantuan operator.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang