Gubernur BI: Indonesia Bisa Terpengaruh Krisis Perbankan AS

Kompas.com - 16/07/2008, 20:02 WIB

JAKARTA, RABU - Gubernur Bank Indonesia Boediono, Rabu (16/7) sore, mengakui bahwa krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) yang kini terjadi akan memberikan pengaruh kepada perekonomian Indonesia. Akan tetapi, dengan dinamika ekonomi internal di Indonesia yang cukup baik, diharapkan perekonomian Indonesia bisa bertahan.  Saat ini kondisi ekonomi Indonesia terbilang baik karena ekspor komoditas masih banyak dan pengeluaran pemerintah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) cukup besar.

Demikian disampaikan Boediono menjawab pers, seusai bersama Pelaksana Harian (Plh) Menko Perekonomian, yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/7).

"Dampak krisis perbankan di AS, memang akan memberikan pengaruh. Namun, dinamika ekonomi internal kita yang cukup baik, tampaknya ekonomi kita masih tetap akan baik. Tak hanya ekspor komoditasnya yang masih banyak, pengeluaran pemerintah juga masih cukup tinggi dan adanya implementasi proyek-proyek infrastruktur," terang Boediono.

Meski demikian, tambah Boediono, Presiden Yudhoyono telah memberikan instruksi agar jajaran ekonomi pemerintah yang dipimpin Sri Mulyani dapat terus berkoordinasi dengan Dewan Gubernur BI.  "Presiden memberikan arahan agar ke depan, masalah stabilitas ekonomi perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Jajaran pemerintah harus terus bekerjasama dengan BI. Jadi, intinya, stabilitas ekonomi harus menjadi prioritas utama," tambah Boediono.

Pelambatan belum diketahui

Ditanya mengenai pelambatan ekonomi di Indonesia sebagai dampak krisis di AS tersebut, Boediono mengatakan belum tahu. "Berapa jauh pelambatan itu terjadi, mengingat sejumlah komoditas yang diekspor masih tetap banyak. Beberapa masalah juga cukup baik, misalnya Surat Utang Negara (SUN) sudah dijual dan tingkat suku bunganya mulai turun," jelas Boediono.

Boediono mengaku kedatangannya ke istana ini untuk pertama kalinya sejak ia dilantik sebagai Gubernur BI. "Saya melaporkan tentang situasi dan perekonomian sektor keuangan kondisi terakhir ini. Pada intinya, semuanya menuju keperbaikan," ujarnya. 

Perbaikan itu ditandai dengan mulai stabil dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. "Yield untuk SUN yang turun, sehingga kita bisa membayar bunganya lebih rendah dan harganya bisa naik. Pasar uang juga cukup stabil. Bahkan, cadangan devisa kita sekarang sangat bagus sekali, yaitu mencapai posisi 59,6 miliar dollar AS. Adapun inflasi, semoga setelah kenaikan harga BBM ini bisa kembali ke normal. Jadi, kita harapkan puncak krisisnya sudah kita lewati," papar Boediono.

Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, untuk sementara dampak krisis momentumnya tidak akan banyak. Akan tetapi, tahun depan hal itu masih terganutng pada kondisi global. "Positifnya, dengan adanya krisis di AS, permintaan pasokan minyak akan turun sehingga tekanan terhadap harga minyak mentah diharapkan bisa turun," ujar Sri Mulyani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau