JAKARTA, RABU - Gubernur Bank Indonesia Boediono, Rabu (16/7) sore, mengakui bahwa krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) yang kini terjadi akan memberikan pengaruh kepada perekonomian Indonesia. Akan tetapi, dengan dinamika ekonomi internal di Indonesia yang cukup baik, diharapkan perekonomian Indonesia bisa bertahan. Saat ini kondisi ekonomi Indonesia terbilang baik karena ekspor komoditas masih banyak dan pengeluaran pemerintah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) cukup besar.
Demikian disampaikan Boediono menjawab pers, seusai bersama Pelaksana Harian (Plh) Menko Perekonomian, yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/7).
"Dampak krisis perbankan di AS, memang akan memberikan pengaruh. Namun, dinamika ekonomi internal kita yang cukup baik, tampaknya ekonomi kita masih tetap akan baik. Tak hanya ekspor komoditasnya yang masih banyak, pengeluaran pemerintah juga masih cukup tinggi dan adanya implementasi proyek-proyek infrastruktur," terang Boediono.
Meski demikian, tambah Boediono, Presiden Yudhoyono telah memberikan instruksi agar jajaran ekonomi pemerintah yang dipimpin Sri Mulyani dapat terus berkoordinasi dengan Dewan Gubernur BI. "Presiden memberikan arahan agar ke depan, masalah stabilitas ekonomi perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Jajaran pemerintah harus terus bekerjasama dengan BI. Jadi, intinya, stabilitas ekonomi harus menjadi prioritas utama," tambah Boediono.
Pelambatan belum diketahui
Ditanya mengenai pelambatan ekonomi di Indonesia sebagai dampak krisis di AS tersebut, Boediono mengatakan belum tahu. "Berapa jauh pelambatan itu terjadi, mengingat sejumlah komoditas yang diekspor masih tetap banyak. Beberapa masalah juga cukup baik, misalnya Surat Utang Negara (SUN) sudah dijual dan tingkat suku bunganya mulai turun," jelas Boediono.
Boediono mengaku kedatangannya ke istana ini untuk pertama kalinya sejak ia dilantik sebagai Gubernur BI. "Saya melaporkan tentang situasi dan perekonomian sektor keuangan kondisi terakhir ini. Pada intinya, semuanya menuju keperbaikan," ujarnya.
Perbaikan itu ditandai dengan mulai stabil dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. "Yield untuk SUN yang turun, sehingga kita bisa membayar bunganya lebih rendah dan harganya bisa naik. Pasar uang juga cukup stabil. Bahkan, cadangan devisa kita sekarang sangat bagus sekali, yaitu mencapai posisi 59,6 miliar dollar AS. Adapun inflasi, semoga setelah kenaikan harga BBM ini bisa kembali ke normal. Jadi, kita harapkan puncak krisisnya sudah kita lewati," papar Boediono.
Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, untuk sementara dampak krisis momentumnya tidak akan banyak. Akan tetapi, tahun depan hal itu masih terganutng pada kondisi global. "Positifnya, dengan adanya krisis di AS, permintaan pasokan minyak akan turun sehingga tekanan terhadap harga minyak mentah diharapkan bisa turun," ujar Sri Mulyani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang