Ali Masykur: Yusuf Faisal Harus Buka-Bukaan

Kompas.com - 17/07/2008, 21:08 WIB

JAKARTA, KAMIS - Anggota Komisi XI DPR asal Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB), Ali Masykur Musa, mempersilahkan Yusuf Emir Faisal, tersangka kasus suap alih fungsi hutan mangrove menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumsel, untuk buka-bukaan perihal siapa-siapa yang ikut mencicipi aliran dana tersebut.

Ali yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Muktamar Parung, mengatakan sikap blak-blakan itu adalah kunci terbaik daripada memunculkan saling sangka. "Kuncinya saya minta ke Yusuf Faisal untuk membeberkan apa adanya, siapa-siapa yang menerima. Itu lebih baik untuk menghindari adanya fitnah. Saya sebagai ketua Umum PKB hasil Muktamar Parung, mempersilahkan itu untuk dibuka saja," ujar Ali Masykur kepada wartawan di sela-sela acara Sarasehan, Rakernas, Ta'aruf PB IKA PMII di Jakarta, Kamis (17/7).

Pernyataan Ali Masykur itu menyoal munculnya sikap saling serang di antara dua kubu PKB usai Sekjen PKB vers Muktamar Parung, Yenny Wahid menyebut bahwa Ketua Umum PKB vers Muktamar Ancol, Muhaimin Iskandar dan orang-orang dekatnya ikut menikmati aliran dana dari Yusuf Faisal, kubu PKB Muhaimin langsung bereaksi. Rabu (16/7), PKB Muhaimin mengultimatum Yenny meralat ucapannya. Jika tidak, putri Gus Dur itu akan dilaporkan ke pihak berwajib.

Ali mengatakan, kasus Yusuf Faisal yang kini ikut menyeret-nyeret institusi PKB hendaknya tidak dilihat dari sisi dua PKB yang tengah berseteru, PKB versi Muktamar Parung yang dipimpinnya, dan PKB versi Muktamar Ancol pimpinan Muhaimin Iskandar.

Ia mengatakan, secara kelembagaan tidak ada satupun yang masuk ke dalam institusi partai berlambang sembilan bintang dan bola dunia itu, baik itu melalui rekening partai maupun pertanggungjawaban lewat partai. "Ini masalahnya bukan PKB Parung atau Ancol. Karena itu saya menyerahkan sepenuhnya proses itu kepada individu to individu," ujar Ali.

Toh, meski tidak ingin mengait-ngaitkan dengan dua versi PKB, Ali Masykur juga menegaskan bahwa pernyataan Yenny Wahid bahwa beberapa pejabat PKB versi Muktamar Ancol ikut menerima aliran dana dari Yusuf Faisal hendaknya tidak dilihat sebagai sebuah serangan yang kemudian dibalas dengan serangan. "Terhadap pernyataan dari Mbak Yenny, jangan dinilai ini dalam rangka menyudutkan orang kemudian yang lain merasa terbakar, nggak seperti itu," lanjut penyuka makanan tahu campur ini.

Ali Masykur juga mengatakan bahwa dulunya, Yusuf Faisal pernah punya kedekatan dengan Muhaimin Iskandar. "Waktu itu memang deket dengan pak Muhaimin, sekarang yah saya tidak tahu. Hubungannya bagaimana, yah tanya saja sama pak Yusuf Faisal dan pak Muhaimin," sambung politisi asal Tulungagung Jawa Timur ini.

Ali juga mengaku tidak tahu persis apakah Yusuf Faisal pernah ada koordinasi dengan partai atau fraksi. Menurutnya, untuk mengetahui apakah penyerahan Yusuf Faisal kepada fraksi apakah secara kelembagaan atau orang-peroangan, akan terkuak jika Yusuf Faisal sendiri yang bersedia mengukapkan apa adanya.

"Saya tidak tahu persis. Kalau orang per orang bisa jadi. Tapi waktu itu ketumnya kan masih Pak Muhaimin. Semua rapat-rapat di bawah pimpinan Pak Muhaimin. Kalau misalkan kepada fraksi, waktu itu kan ketua fraksinya Ida Fauziah dan juga ada Helmi Faisal. Tapi, saya tidak tahu apakah secara pribadi atau kelembagaan," ucap Ali Masykur.

Terkait usulan dari istri Yusuf Faisal, Hetty Koes Endang  agar bendahara PKB diaudit KPU, Ali mengatakan tidak keberatan. "Kami setuju saja karena semua partai punya kewajiban untuk diaudit keuangan partainya. Nggak ada masalah. Kita lihat saja di dalam audit itu apakah ada aliran dana pada institusi partai. Setahu saya waktu itu saya masih Waketum, tidak ada satupun aliran itu ke institusi," lanjut Ali Masykur. (Persda Network/had)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau