Etnik Minahasa Rentan Sakit Jantung?

Kompas.com - 18/07/2008, 17:03 WIB

MAKANAN berlemak nan gurih memang sedap sekali untuk disantap.  Tapi di balik kelezatan rasanya tentu ada risiko kesehatan mengancam seperti penimbunan lemak dalam tubuh atau meningkatnya kadar kolesterol jahat dalam darah. Yang biasanya terjadi kemudian adalah beragam penyakit berat mengancam, mulai dari obesitas, penyakit jantung, stroke atau diabetes.

Di sejumlah daerah di Indonesia, mengonsumsi makanan berlemak tinggi ada yang menjadi bagian gaya hidup. Kebiasaan ini juga dipengaruhi  faktor budaya, adat istiadat, agama dan kepercayaan. Di kalangan etnik Minahasa Propinsi Sulawesi Utara misalnya, menyantap menu berlemak terbuat dari lemak hewani (babi) merupakan bagian dari keseharian. Tak heran bila kebiasaan ini pun ternyata meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan Dr. Grace Debbie Kandau, terungkap bahwa warga Minahasa yang sering mengonsumsi makanan asam lemak jenuh tinggi berisiko lebih tinggi mengidap penyakit jantung koroner (PJK).  Penelitian ini dipaparkan Dr. Grace Debbie dalam promosi doktor di Kampus Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Depok, Jumat (18/7).

Dengan melibatkan 256 partisipan, Dr Grace melakukan pengumpulan data frekuensi makan dengan FFQ (Food Frequency Quationnaire) untuk melihat hubungan kebiasaan makan dengan penyakit.  Partisipan dibagi dua kelompok yakni  128  pasien penderita jantung dan pasien non PJK yang berobat di RSU Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.

Karena jenis makanan etnik Minahasa belum ada dalam DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan), Grace melakukan pemeriksaan kandungan asam lemak jenuh dengan metoda Gas Chromatography dari 41 jenis makanan etnik Minahasa di Laboratorium Pangan & GO Litbangkes Bogor. Hasil penelitian menunjukkan, makanan etnik minahasa mengandung asam lemak jenuh tinggi sekitar 0,01-10,46 %food/100 gram.

"Seseorang yang mengkomsumsi jenis makanan berisiko PJK seperti babi putar dengan frekuensi makan lebih dari dua kali/bulan mempunyai kemungkinan terkena PJK 4,43 kali lebih besar dibanding orang yang mengkonsumsi kurang dari sekali/bulan," ungkap hasil penelitian itu.

Setelah memperhitungkan beragam faktor seperti jenis kelamin, riwayat PJK dalam keluarga dan diabetes mellitus, hasil riset juga menunjukkan seseorang yang punya kebiasaan makan menu berlemak dengan frekuensi sering risikonya tercatat 5,4 kali lebih besar untuk terkena PJK dibanding  yang makan jarang .

"Di antara jenis makanan tersebut, terdapat 25 jenis makanan yang berpotensi terhadap PJK dan yang paling berisiko diantaranya adalah babi putar, kotey dan babi hutan," jelas Grace melalui siaran pers yang diterima Kompas.com.

Dr. G race Debbie Kandau juga merekomandasikan kepada instansi terkait dalam hal ini Departemen Kesehatan agar melakukan upaya penyuluhan kepada masyarakat etnik Minahasa untuk mengurangi frekuensi mengonsumsi menu yang berisiko terhadap PJK dan mengganti makanan yang berisiko dengan jenis makanan yang tidak berisiko seperti ikan, sayuran tinutuan, dsb.

"Kepada tokoh masyarakat, tokoh gereja supaya menjadi panutan dalam hal mengurangi pesta makan 'enak" dan mengajak anggota/jemaatnya untuk menjaga kebiasaan makan sehat melalui pidato/khotbah yang dibawakannya," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau