Sesama Pensiunan Jenderal Jangan Saling Jegal

Kompas.com - 19/07/2008, 14:20 WIB

JAKARTA, SABTU - Persaingan sesama pensiunan jenderal TNI untuk memperebutkan kursi presiden pada pemilu 2009 bakal ketat. Sampai saat ini saja, sudah ada empat orang yang menyatakan diri sebagai sebagai capres. Saling sikut dan saling jegal sesama alumni Akademi Militer (Akmil) untuk memperebutkan RI-1 bakal susah dihindari.

Untuk menghindari ekses buruk dari persaingan sesama pensiunan jenderal TNI, Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya mengajak para senior dan junior bersaing sehat. Tidak saling jegal menjegal. Sutiyoso juga mengajak sesama capres dari TNI untuk tetap bisa membangun komunikasi dengan baik, sehingga bisa saling membantu, tidak saling menjatuhkan.

"Saya tidak mau menjegal lawan-lawan saya. Kita kan sama-sama alumni Akmil. Kita ditempa di tempat yang sama. Saya juga tidak mau dijegal oleh lawan. Saya mengajak semua untuk bersaing secara sehat. Tidak menggunakan black campaign untuk menjatuhkan lawan-lawannya," ujar Sutiyoso kepada Persda Network, Sabtu (19/7), menanggapi banyaknya persaingan capres sesama pensiunan TNI.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini sudah membulatkan tekad mencalonkan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2009. Sejak beberapa bulan terakhir ini, Sutiyoso sudah aktif mengadakan kunjungan ke daerah- daerah untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Relawan Bang Yos dan Bang Yos Center sudah berdiri di beberapa daerah untuk menghimpun dukungan riil dari masyarakat.

Tekad Sutiyoso merebut kursi RI-1 akan banyak dihadang oleh senior dan juniornya sewaktu di Akmil. Ada senornya, Wiranto, yang bakal menggunakan kendaraan politik partai baru yang dirintisnya, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), untuk ikut merebut kursi RI-1.

Kemudian oleh juniornya, yang juga mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto. Mantan menantu Presiden Soeharto ini juga sudah membulatkan tekad untuk ikut merebut kursi Presiden RI dengan menggunakan kendaraan politik, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), partai baru peserta pemilu 2009. Masih ada lagi calon presiden yang dari tentara, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY jelas diusung oleh Partai Demokrat.

Untuk menanggulangi terjadinya persaingan saling menjatuhkan sesama alumni Akmil, Sutiyoso mengaku intensif menjalin komunikasi, baik dengan pimpinan TNI maupun dengan senior dan juniornya yang sama-sama akan maju sebagai calon presiden.

"Sebelum mengikrarkan tekad saya untuk maju sebagai capres, saya sudah sampaikan kepada Mas Wiranto, Pak SBY, Prabowo, dan Panglima TNI. Ini hanya untuk menjaga keharmonisan komunikasi untuk saling menghormati dan tidak saling menjatuhkan," ungkap Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso.

Sutiyoso mengakui, bila sebelum reformasi, TNI tidak akan mengizinkan anggotanya untuk maju bersama-sama dengan sasaran yang sama seperti calon presiden ini. "Dulu, satu sasaran hanya boleh satu orang. Bila sudah ada satu orang yang lain harus mundur. Sekarang beda. Panglima tidak mempermasalahkan. Semua dipersilahkan bersaing secara sehat, jangan saling jegal, namun saling membantu," katanya.

Menurut Sutiyoso, keputusannya untuk tidak menjegal lawan juga ia sosialisasikan sampai ke para pendukung maupun tim suksesnya. Pendukung dan tim suksesnya sudah diinstruksikan untuk tidak menjegal lawan atau menggunakan black campaign untuk menjatuhkan lawannya.

"Kalau yang nuduh dan menjelek-jelekan saya, pendukung dan tim sukses tidak boleh membalasnya. Saya justru minta mereka untuk menjawabnya dengan yang baik-baik. Tidak ada untungnya membalas. Justru dengan kebaikan itu akan mengundang simpati rakyat. Mereka bisa menilai, kok, mana yang benar, dan mana yang salah," katanya. (Persda Network/Sugiyarto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau