JAKARTA, SABTU - Persaingan sesama pensiunan jenderal TNI untuk memperebutkan kursi presiden pada pemilu 2009 bakal ketat. Sampai saat ini saja, sudah ada empat orang yang menyatakan diri sebagai sebagai capres. Saling sikut dan saling jegal sesama alumni Akademi Militer (Akmil) untuk memperebutkan RI-1 bakal susah dihindari.
Untuk menghindari ekses buruk dari persaingan sesama pensiunan jenderal TNI, Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya mengajak para senior dan junior bersaing sehat. Tidak saling jegal menjegal. Sutiyoso juga mengajak sesama capres dari TNI untuk tetap bisa membangun komunikasi dengan baik, sehingga bisa saling membantu, tidak saling menjatuhkan.
"Saya tidak mau menjegal lawan-lawan saya. Kita kan sama-sama alumni Akmil. Kita ditempa di tempat yang sama. Saya juga tidak mau dijegal oleh lawan. Saya mengajak semua untuk bersaing secara sehat. Tidak menggunakan black campaign untuk menjatuhkan lawan-lawannya," ujar Sutiyoso kepada Persda Network, Sabtu (19/7), menanggapi banyaknya persaingan capres sesama pensiunan TNI.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini sudah membulatkan tekad mencalonkan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2009. Sejak beberapa bulan terakhir ini, Sutiyoso sudah aktif mengadakan kunjungan ke daerah- daerah untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Relawan Bang Yos dan Bang Yos Center sudah berdiri di beberapa daerah untuk menghimpun dukungan riil dari masyarakat.
Tekad Sutiyoso merebut kursi RI-1 akan banyak dihadang oleh senior dan juniornya sewaktu di Akmil. Ada senornya, Wiranto, yang bakal menggunakan kendaraan politik partai baru yang dirintisnya, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), untuk ikut merebut kursi RI-1.
Kemudian oleh juniornya, yang juga mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto. Mantan menantu Presiden Soeharto ini juga sudah membulatkan tekad untuk ikut merebut kursi Presiden RI dengan menggunakan kendaraan politik, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), partai baru peserta pemilu 2009. Masih ada lagi calon presiden yang dari tentara, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY jelas diusung oleh Partai Demokrat.
Untuk menanggulangi terjadinya persaingan saling menjatuhkan sesama alumni Akmil, Sutiyoso mengaku intensif menjalin komunikasi, baik dengan pimpinan TNI maupun dengan senior dan juniornya yang sama-sama akan maju sebagai calon presiden.
"Sebelum mengikrarkan tekad saya untuk maju sebagai capres, saya sudah sampaikan kepada Mas Wiranto, Pak SBY, Prabowo, dan Panglima TNI. Ini hanya untuk menjaga keharmonisan komunikasi untuk saling menghormati dan tidak saling menjatuhkan," ungkap Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso.
Sutiyoso mengakui, bila sebelum reformasi, TNI tidak akan mengizinkan anggotanya untuk maju bersama-sama dengan sasaran yang sama seperti calon presiden ini. "Dulu, satu sasaran hanya boleh satu orang. Bila sudah ada satu orang yang lain harus mundur. Sekarang beda. Panglima tidak mempermasalahkan. Semua dipersilahkan bersaing secara sehat, jangan saling jegal, namun saling membantu," katanya.
Menurut Sutiyoso, keputusannya untuk tidak menjegal lawan juga ia sosialisasikan sampai ke para pendukung maupun tim suksesnya. Pendukung dan tim suksesnya sudah diinstruksikan untuk tidak menjegal lawan atau menggunakan black campaign untuk menjatuhkan lawannya.
"Kalau yang nuduh dan menjelek-jelekan saya, pendukung dan tim sukses tidak boleh membalasnya. Saya justru minta mereka untuk menjawabnya dengan yang baik-baik. Tidak ada untungnya membalas. Justru dengan kebaikan itu akan mengundang simpati rakyat. Mereka bisa menilai, kok, mana yang benar, dan mana yang salah," katanya. (Persda Network/Sugiyarto)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang