Napak Tilas Sejarah Peradaban di Tahura

Kompas.com - 19/07/2008, 15:14 WIB

Berwisata sambil berolahraga tentu sudah biasa. Namun, jika bisa menambah wawasan budaya dan sejarah peradaban, itu istimewa. Keistimewaan itu dapat kita peroleh dengan berwisata salah satunya di Taman Hutan Ir. Juanda di Bukit Dago Pakar, Bandung.

Menurut catatan sejarah, kawasan yang dilindungi ini merupakan salah satu bekas situs purbakala. Di tempat ini ditemukan berbagai artefak peradaban manusia prasejarah dari zaman 6 ribu tahun silam. Masa di mana ketika Kota Bandung dan sekitarnya masih berbentuk danau purba yang dipicu ledakan gunung purba pada 11 ribu tahun lalu.

Sebagian artefak yang mayoritas berupa senjata macam kapak jasper, mata panah obsidian, hingga tombak perunggu dari zaman neolitikum ini tersimpan di museum yang berlokasi di tempat sama. Nama Pakar yang menjadi penanda kawasan di Bandung Utara diambil dari istilah Pakarangan atau tempat pembuatan senjata manusia prasejarah.

Berkeliling di kawasan seluas 526,98 hektar ini, pikiran kita pun diajak berfantasi. Membayangkan suasana ribuan bahkan puluhan tahun silam yang dipancing dari berbagai artefak, benda sejarah, atau keunikan panoramanya. Jika tidak percaya, cobalah kunjungi dua obyek unggulan di tempat ini, yaitu Goa Belanda dan Jepang. Tempat yang gelap dan dingin. Sedingin mitos dan ceritanya.  

Dari luar, kedua goa ini sungguh terlihat menyimpan tantangan dan misteri. Jika Anda punya cukup nyali , cobalah melangkah tanpa bantuan senter. Mengingat, tidak ada satu pun cahaya lampu penerangan di kedua goa. Jika lupa membawa senter, Anda tidak perlu khawatir. Tersedia penyewaan senter bertarif Rp 3.00 0 per buah. Dan, ada baiknya Anda meminta bantuan pendamping (guide) untuk berkeliling.

Bukan apa-apa. Ini untuk menghindari kita tersesat di dalam. Belum lagi, terkait potensi informasi yang didapat. Goa Belanda yang berjarak 300 meter dari pintu utama a walnya dibuat di tahun 1812. Ruangnya diperbanyak tahun 1918 dan dimaksimalkan fungsinya di 1941. Goa ini memiliki 15 cabang lorong, tiga diantaranya menghubungkan dengan pintu masuk, tinggi 3,2 meter, dan luas total sekitar 750 meter persegi.

Ruang tahanan di gua

Awalnya, gua ini didesain sebagai terowongan air untuk menggerakkan turbin di PLTA Bengkok (sekarang). Di atas terowongan ini pun terdapat kolam penampungan air. Mengingat letaknya yang strategis, fungsinya dirubah sebagai pusat telekomunikasi. L alu menjadi pusat penyimpanan senjata dan mesiu setelah diambil alih tentara Jepang. Di sini kita bisa menemui ruang-ruang tempat tahanan, dan radio komunikasi.

Konon, ada pula sebuah ruangan tempat penyiksaan tawanan perang. Di lorong utama (dari pintu m asuk) tersedia rel untuk lori sepanjang 100 meter. Konon, kendaraan pun bisa masuk di tempat ini mengingat besarnya lorong kedua (tinggi 3,25 meter dan lebar 4 meter). Gua ini tembus ke bagian belakang bukit yang menjadi jalan potong para pelancong ke daerah Maribaya yang berjarak 5 kilometer.

Berbeda dengan gua peninggalan belanda ini, Gua Jepang tampak lebih alamiah. Lantainya han ya terbuat dari tanah, berbentuk gumpalan-gumpalan bundar akibat proses kondensasi (pendinginan). Tingginya hanya 2,50 meter, disesuaikan dengan tinggi orang Jepang ketika itu. Konon, pembangunan gua ini menggunakan sistem romusha. Sehingga, tidak sedikit pribumi yang sakit, bahkan mati di tempat ini.

Gua yang sempat digunakan untuk shooting Film Si Buta dari Goa Hantu (1970) ini menurut cerita warga menyimpan kisah mistis pula. Di sini ada larangan tidak boleh bicara haneut (panas), tutur Ajim (30), guide yang juga warga setempat. Pantangan ini sudah muncul turun temurun sejak puluhan tahun silam. Menurut Ajim, gua yang sempat menjadi tempat shooting sebuah tayangan mistis di layar kaca ini dahulu dijaga kuncen.

Terlepas dari kisah mistis ini yang biasa menyertai situs-situs sejarah atau budaya, pengunjung akan disuguhi pengalaman wisata yang tidak biasa. Jika Anda belumlah puas dengan kedua ikon di obyek wisata ini, perjalanan bisa dilanjutkan ke arah utara. Treking menyusuri perbukitan asri sepanjang 5 km menuju arah Maribaya, Lembang. Sepanjang perjalanan, Anda akan m enjumpai pemandangan menakjubkan macam Patahan Lembang, sebuah ngarai raksasa.(Yulvianus Harjono)    

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau