TEGAL, SENIN - Abrasi yang terjadi di perairan Muarareja, Kota Tegal kian parah. Pantai yang hilang akibat tergerus ombak semakin lebar, sehingga jarak laut dengan pemukiman dan areal tambak semakin dekat. Apabila tidak segera ditangani, keberadaan daratan di Kota Tegal terancam hilang.
Kurniasih (30), warga RT 4, RW 2, Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Senin (21/7) mengatakan, dari tahun ke tahun, abrasi di Pantai Muarareja semakin parah. Abrasi tersebut telah mengikis daratan di pinggir pantai dan mengancurkan tam bak warga.
Dalam setahun terakhir, sedikitnya 10 petak tambak milik petani di sana hilang. Satu warung semi permanen milik warga setempat, yang berada di dekat muara sungai Kemiri (sungai yang berhubungan langsung dengan laut) juga hilang.
Dalam tiga bulan terakhir, abrasi terparah terjadi pada bulan Juni. Selama kurun waktu tersebut, lebar daratan pantai yang hilang sekitar 150 meter. "Selain itu, rob juga terjadi hampir setiap hari, dan menggenangi rumah warga. Setiap hari banjir (rob), dan merendam rumah hingga sekitar 20 sentimeter," ujarnya.
Mulyati (50), warga RT 2 RW 3, Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, mengaku telah kehilangan dua hektar tambak selama kurun waktu lima tahun terakhir. Akibatnya, ia kehilangan sebagian sumber pendapatannya.
Menurut dia, abrasi juga mengakibatkan jarak pantai dengan rumah warga semakin dekat. Tahun lalu, jarak pantai dengan rumah masih sekitar 30 meter, namun saat ini hanya sekitar 15 hingga 20 meter. Sebagian pohon bakau dan tambak yang membatasi rumah denga n pantai juga rusak.
"Oleh karena itu, warga sangat berharap adanya upaya dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Saat ini sudah sangat darurat, pemerintah harus ada gerakan," ujarnya.
Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP) Kota Tegal, Edi Waluyo mengatakan, selama kurun waktu 19 tahun terakhir, sedikitnya 300 hektar tambak udang dan puluhan rumah warga di sana hilang. Lebar pantai yang hilang tergerus ombak mencapai lebih da ri 100 meter, dengan panjang tiga kilometer. Apabila tidak ditangani, kawasan permukiman di pantai Kota Tegal akan hilang dalam 40 tahun ke depan.
Menurut Edi, abrasi disebabkan fenomena alam dan pengaruh kondisi geografis pantai di Kota Tegal. Fenomena alam berupa munculnya ombak besar yang menggerus pasir pantai. Hal itu terutama terjadi saat bulan purnama. Kondisi itu diperparah dengan bentuk per airan pantai Kota Tegal yang menyerupai teluk.
Sebenarnya, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan itu, seperti menanam bibit mangrove dan membangun groin. "Namun, penanaman mangrove tidak efektif karena hanya sekadar tanam. Seharusnya setelah ditaman, pemerintah memberdaya kan orang untuk merawat dan memeliharanya," kata Edi.
Edi mengatakan, ancaman abrasi di sepanjang pantai Kota Tegal tidak boleh diabaikan. Pemerintah seharusnya mendatangkan tenaga ahli pesisir pantai dan pelabuhan untuk mengetahui sifat pantai dan ekosistem yang ada di sana. Dengan demikian, upaya penangana nnya bisa optimal.
Selain itu, upaya lain berupa reklamasi pantai yang hilang. Pantai yang sudah direklamasi ditanami dengan jenis tanaman yang tumbuh di air, seperti gelam tikus dan dolkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang