Orang Indonesia Berniat Pinjam Rp 6,6 Triliun untuk Rumah

Kompas.com - 21/07/2008, 20:18 WIB

Laporan wartawan Kompas Haryo Damardono

JAKARTA, SENIN-  Hasil survei International Finance Corporation (IFC), lembaga dunia yang berkantor di Gedung Bursa Efek Jakarta, menunjukkan sebanyak 49 persen dari 1.281 responden berniat membeli rumah dalam tiga tahun ke depan.Dari survei itu, diketahui terdapat 55.800 klien potensial, dengan jumlah pinjaman lebih dari Rp 6,6 triliun. Para responden telah menyatakan minat untuk meminjam uang ke bank atau koperasi.

"Temuan kami menyatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih menginginkan suku bunga kredit kepemilikan rumah tetap atau fixed rate, dan mereka juga ingin uang muka yang lebih ringan," ujar Raymond Struyk dari Universitas Chicago, selaku periset Indonesian Housing Finance Surveu, Senin (21/7) saat bertemu di kantor IFC.

Survei digelar pada Desember 2007 hingga Juni 2008, pada tujuh kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bandung, Semarang, dan Denpasar. Rata-rata responden berusia 39 tahun, dan berpenghasilan (gaji pokok) rata-rata Rp 5 juta per bulan.

"Bila perbankan jeli, masih sangat besar peluang untuk menyalurkan KPR kepada masyarakat. Karakter pengaju KPR harus dipahami," ujar Struyk.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau