Gara-gara Miras, Kios Dirusak Massa

Kompas.com - 21/07/2008, 21:13 WIB

MANOKWARI, SENIN – Beberapa kios di pedalaman Moanemani Kabupaten Nabire Provinsi Papua, Senin (21/7), dibakar warga setempat. Diduga warga marah akibat salah seorang kerabatnya meninggal setelah meminum obat yang dibeli dari kios itu. Hingga pukul 21.30, belum diketahui adanya korban meninggal dalam peristiwa ini.

Ketika dihubingi, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Nabire Ajun Komisaris Mustafa mengakui telah terjadi kerusuhan di Moanemani. ”Untuk detilnya saya belum tahu karena tadi baru kirim anggota ke Moanemani. Nanti kalau ada perkembangan kami beri kabar,” ujarnya.

Ia mengatakan aparat setempat terkendala lokasi kejadian perkara yang sangat jauh dan belum terjangkau alat telekomunikasi telepon maupun ponsel. Ketika ditanya apakah di Polsek Moanemani tidak ada HT dan telepon satelit, ia mengatakan ada telepon satelit tetapi suara terputus-putus karena gangguan cuaca.

Selain masalah komunikasi, aparat juga terkendala masalah transportasi Nabire-Moanemani yang berjarak hingga 180 kilometer. Untuk mencapai Moanemani dibutuhkan perjalanan darat menggunakan mobil segala medan dengan waktu tempuh paling cepat delapan jam. Namun kini waktu tempuh itu bertambah dengan masih rusaknya beberapa ruas bagian Jalan Nabire-Paniai.

Masalah kesehatan
Dokter Anto, seorang dokter PTT di Bomomani Mapia Nabire mengaku telah mendengar kabar ini. ”Saya dengar begitu. Tadi ada warga yang cerita kalau peristiwa itu karena pemilik kios dituduh meracuni warga dengan obat yang dijualnya,” ujar dokter Antok ketika dihubungi Kompas lewat telepon satelit di Pastoran Bomomani Mapia. Letak Bomomani ke Moanemani sekitar setengah hari perjalanan jalan kaki.

Di Moanemani beberapa waktu lalu terjadi wabah muntaber yang sempat merenggut korban jiwa. Hal ini diatasi Pemkab Nabire dengan mengirimkan tenaga medis, termasuk Dokter Anto, ke lokasi selama beberapa hari.Dokter Anto sangat menyayangkan masalah kesehatan malah berkembang ke anarkis.

”Pengobatan saja tidak cukup untuk memberantas muntaber. Selama warga masih belum memiliki lingkungan yang sehat, wabah dapat terjadi lagi,” ujarnya. Ia mencontohkan kebiasaan warga yang masih membuang kotoran di halaman rumah. Diharapkan, sosialisasi dan pembinaan pola hidup sehat terhadap masyarakat dapat terus digalakkan agar masalah kesehatan dapat teratasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau