Pasar Saham Belum Mengkhawatirkan

Kompas.com - 22/07/2008, 14:56 WIB

JAKARTA, SELASA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diikuti kenaikan harga komoditas lain, membuat pasar modal di Indonesia bergejolak. Akan tetapi, gejala naik-turun tersebut tidak harus ditanggapi secara negatif, sebab fluktuasi merupakan langkah awal menuju kedewasaan.

Menurut Budi Ruseno, ketua Asosiasi Analisis Indonesia (AAI), situasi pasar modal internasional yang terus bergejolak, memang langsung berimbas pada pasar modal di Indonesia tapi belum sampai pada titik yang mengkhawatirkan. "Naiknya harga minyak dunia membuat komoditas dalam negeri ikut melonjak, sebab minyak dan emas merupakan komoditi utama dunia. Tapi pasar domestik relatif terkendali," kata Budi, saat seminar di Wisma BCA, Jakarta, Selasa (22/7).

Budi lantas mengatakan peran federal reserve yang seharusnya memiliki kendali dalam mengatasi krisis moneter global, masih disibukkan untuk mengatasi dampak subprime mortgage dengan berbagai kebijakannya. "Akibatnya situasi pasar modal internasional terus bergejolak. Beruntung dinamika ekonomi domestik cukup baik dalam menghadapinya, sehingga dampak yang dirasakan tidak terlalu besar," beber Budi.

Keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM, membuat penurunan suku bunga SUN dan menyebabkan pasar uang relatif stabil, serta membuat cadangan devisa mencapai 59,6 miliar dollar AS. Walaupun begitu, indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Kamis (17/7) ditutup pada level terendahnya tahun ini. Indeks itu akhirnya ditutup melemah 50,412 poin atau 2,27 persen. (C11-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau