JAKARTA, SELASA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diikuti kenaikan harga komoditas lain, membuat pasar modal di Indonesia bergejolak. Akan tetapi, gejala naik-turun tersebut tidak harus ditanggapi secara negatif, sebab fluktuasi merupakan langkah awal menuju kedewasaan.
Menurut Budi Ruseno, ketua Asosiasi Analisis Indonesia (AAI), situasi pasar modal internasional yang terus bergejolak, memang langsung berimbas pada pasar modal di Indonesia tapi belum sampai pada titik yang mengkhawatirkan. "Naiknya harga minyak dunia membuat komoditas dalam negeri ikut melonjak, sebab minyak dan emas merupakan komoditi utama dunia. Tapi pasar domestik relatif terkendali," kata Budi, saat seminar di Wisma BCA, Jakarta, Selasa (22/7).
Budi lantas mengatakan peran federal reserve yang seharusnya memiliki kendali dalam mengatasi krisis moneter global, masih disibukkan untuk mengatasi dampak subprime mortgage dengan berbagai kebijakannya. "Akibatnya situasi pasar modal internasional terus bergejolak. Beruntung dinamika ekonomi domestik cukup baik dalam menghadapinya, sehingga dampak yang dirasakan tidak terlalu besar," beber Budi.
Keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM, membuat penurunan suku bunga SUN dan menyebabkan pasar uang relatif stabil, serta membuat cadangan devisa mencapai 59,6 miliar dollar AS. Walaupun begitu, indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Kamis (17/7) ditutup pada level terendahnya tahun ini. Indeks itu akhirnya ditutup melemah 50,412 poin atau 2,27 persen. (C11-08)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang