Fadjroel Rachman Serius Calonkan Diri Sebagai Capres

Kompas.com - 22/07/2008, 21:03 WIB

BANDUNG, SELASA - Ketua Gerakan Nasional Calon Independen M Fadjroel Rachman sangat serius ingin maju menjadi calon presiden. Saat ini dia tenggah menggalang kekuatan melalui media, terutama jaringan dunia maya atau internet.

"Pencalonan saya ini sangat serius, sangat serius. Perjuangan kaum muda seperti saya ini sudah cukup pengalaman aktivisme, " kata Fadjroel di Bandung, Selasa (22/7).

Fadjroel menjelaskan, sejak menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dia selalu menentang pemerintahan Orde Baru. Sampai-sampai dia ditangkap dan dipenjara selama tiga tahun. Dalam masa itu, dia sempat mendekam di LP Nusakambangan. Tahun 1998, bersama dengan para mahasiswa, Fadjroel menduduki gedung DPR menuntut Soeharto turun.

Menurut Fadjroel, rezim demokrasi harus dipimpin oleh orang baru yang tidak ada kaitannya dengan rezim lama. Kaum tua seperti Wiranto, Abdurahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan M Jusuf Kalla sudah cukup memimpin. Sebab, kepemimpinan mereka hanya menghasilkan stagnasi ekonomi dan demokrasi. "Rezim lama sudah selesai dan tiba saatnya rezim baru yang dipimpin anak muda maju, " kata Fadjroel.

"Saya tetap jalan terus. Sekarang sedang menggalang dukungan melalaui kampanye warung Tegal, murah dan kenyang, " ujarnya. Kampanye Warung Tegal yang dimaksud adalah menyebarkan ide dan gagasan perubahan melalui jaringan internet gratis seperti Youtube, Facebook, Friendster, dan sejenisnya.

Fadjroel mengungkapkan, tidak kurang dari 700 orang menyatakan dukungannya melalui internet. Selain itu, sekarang ini sudah ada lima organisasi yang mendukungnya. Organisasi ini mempunyai hubungan emosional dengan Fadjroel.

Aktivis prodemokrasi ini mengungkapkan, sudah banyak orang yang memberi tawaran dana, namun dia belum menerimanya. "Saya sedang membuat Yayasan Fadjroel For President. Kalau yayasan ini sudah berdiri, dana tersebut baru saya terima biar jelas pertanggungjawabannya, " ujarnya.

Secara terpisah, politisi senior Jawa Barat Tjetje Hidayat Padmadinata mengatakan, munculnya kaum muda mencalonkan diri menjadi presiden hanyalah letupan aspirasi politik. Namun, mereka sulit untuk memenanginya. Sebab, kualitas demokrasi Indonesia masih rendah karena politik uang masih berkuasa.  

"Betapa pun hebatnya seseorang kalau tidak punya uang, tidak mungkin menjadi presiden. Politik kita ini masih bersifat transaksional, yang bayar yang menang. Untuk jadi presiden butuh uang miliaran rupiah, " kata Tjetje.  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau