BANDUNG, SELASA - Ketua Gerakan Nasional Calon Independen M Fadjroel Rachman sangat serius ingin maju menjadi calon presiden. Saat ini dia tenggah menggalang kekuatan melalui media, terutama jaringan dunia maya atau internet.
"Pencalonan saya ini sangat serius, sangat serius. Perjuangan kaum muda seperti saya ini sudah cukup pengalaman aktivisme, " kata Fadjroel di Bandung, Selasa (22/7).
Fadjroel menjelaskan, sejak menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dia selalu menentang pemerintahan Orde Baru. Sampai-sampai dia ditangkap dan dipenjara selama tiga tahun. Dalam masa itu, dia sempat mendekam di LP Nusakambangan. Tahun 1998, bersama dengan para mahasiswa, Fadjroel menduduki gedung DPR menuntut Soeharto turun.
Menurut Fadjroel, rezim demokrasi harus dipimpin oleh orang baru yang tidak ada kaitannya dengan rezim lama. Kaum tua seperti Wiranto, Abdurahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan M Jusuf Kalla sudah cukup memimpin. Sebab, kepemimpinan mereka hanya menghasilkan stagnasi ekonomi dan demokrasi. "Rezim lama sudah selesai dan tiba saatnya rezim baru yang dipimpin anak muda maju, " kata Fadjroel.
"Saya tetap jalan terus. Sekarang sedang menggalang dukungan melalaui kampanye warung Tegal, murah dan kenyang, " ujarnya. Kampanye Warung Tegal yang dimaksud adalah menyebarkan ide dan gagasan perubahan melalui jaringan internet gratis seperti Youtube, Facebook, Friendster, dan sejenisnya.
Fadjroel mengungkapkan, tidak kurang dari 700 orang menyatakan dukungannya melalui internet. Selain itu, sekarang ini sudah ada lima organisasi yang mendukungnya. Organisasi ini mempunyai hubungan emosional dengan Fadjroel.
Aktivis prodemokrasi ini mengungkapkan, sudah banyak orang yang memberi tawaran dana, namun dia belum menerimanya. "Saya sedang membuat Yayasan Fadjroel For President. Kalau yayasan ini sudah berdiri, dana tersebut baru saya terima biar jelas pertanggungjawabannya, " ujarnya.
Secara terpisah, politisi senior Jawa Barat Tjetje Hidayat Padmadinata mengatakan, munculnya kaum muda mencalonkan diri menjadi presiden hanyalah letupan aspirasi politik. Namun, mereka sulit untuk memenanginya. Sebab, kualitas demokrasi Indonesia masih rendah karena politik uang masih berkuasa.
"Betapa pun hebatnya seseorang kalau tidak punya uang, tidak mungkin menjadi presiden. Politik kita ini masih bersifat transaksional, yang bayar yang menang. Untuk jadi presiden butuh uang miliaran rupiah, " kata Tjetje.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang