Lebih dari 14 Juta Manusia Butuh Bantuan Pangan

Kompas.com - 22/07/2008, 21:54 WIB

NAIROBI, SELASA- Lebih dari 14 juta manusia di seluruh Afrika saat ini hanya bisa bergantung pada bantuan pangan dan bantuan lain untuk bertahan hidup akibat kekeringan dan kenaikan harga pangan.

Krisis pangan itu utamanya terjadi di Ethiopia adn Somalia, dua negara paling miskin di dunia. di sana, banyak sekali keluarga yang hanya bisa makan sehari sekali, sementara yang lainnya memilih untuk memberi makan anak-anaknya atau mengirim mereka ke sekolah agar mendapat bantuan makan.

"Ini sudah jauh lebih dari sekadar mengencangkan ikat pinggang," kata Ketua Bantuan PBB untuk Somalia, Mark Bowden. "Orang-orang sudah mengurangi asupan makanannya. Kita tinggal menunggu hitungan bulan untuk menuju krisis lebih parah," tambahnya.

Dalam perkiraan Bowden, sekiar 3,5 juta manusia, separuhnya di Somalia, membutuhkan bantuan segera sebelum akhir tahun ini. "PBB telah menyatakan bantuan sekitar 637 juta dollar Amerika untuk Somalia, tetapi baru sepertiganya yang dipenuhi," tambah Bowden.

Untuk seluruh dunia, krisis pangan menerpa hampir satu miliar manusia. Dalam sebuah pertemuan PBBB, 181 negara sepakat untuk mengurangi pembatasan perdagangan pangan dan mendongkrak produksi pertanian untuk memerangi kenaikan harga pangan. Akan tetapi, di Afrika produksi pangan dihantam kekeringan, sehingga hampir seluruh kawasan terompet Afrika seperti Ethiopia, Eritrea, Somalia, kenya, dan Djibouti mengalami dua kali pukulan.

Juru bicara Program Pangan Dunia yang berbasis di Nairobi, Peter Smerdon, menyatakan, curah hujan yang diperkirakan turun pada bulan September-Oktober mungkin bisa mengatasi sedikit krisis pangan di Afrika. Akan tetapi itu pun masih dihantuai kekhawatiran bahwa hujan mungkin tidak akan turun.

"Jika itu terjadi (hujan tak turun), jumlah penduduk yang kelaparan akan meledak," katanya.

Dahir Abdi Salah (38), seorang ayah dengan tiga anak yang tinggal di luar ibukota Somalia menyatakan, setahun lalu keluarganya masih bisa makan secara baik: pagi sarapan pancake, siang spaghetti, dan malam kedelai. Sekarang, katanya, anak-anaknya yang berusia 2, 5, dan 6 tahun hanya makan satu kali sehari.

"Mereka hanya makan bubur sekali sehari. Sesekali kami mendapatkan sereal dari lembaga bantuan," kata Dahir.

Khususnya di Somalia, krisis pangan ini bisa menjadi sangat serius, bukan hanya karena kekeringan dan tanahnya yang tandus, melainkan juga tidak berfungsinya dengan baik pemerintahan sejak perang berkepanjangan yang melahirkan pemerintahan diktator pada tahun 1991.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau