Memburu Radovan Karadzic di tanah kelahirannya, Serbia, jelas pekerjaan berat. Pemimpin, rakyat, dan tentara tetap melindunginya. Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengerahkan helikopter dan kendaraan lapis baja untuk mendatangi lokasi keberadaan Karadzic.
Belasan tentara NATO dan Uni Eropa pernah menyerbu rumah kediaman Karadzic di Pale di tenggara Sarajevo. Jejak Karadzic tak ditemukan. Pasukan pun membongkar septic tank setelah istri Karadzic, Ljiljana, mengatakan, Karadzic mungkin berada dalam bungker, seperti Pemimpin Irak Saddam Hussein.
Belasan tentara AS, Inggris, Jerman, dan Slovenia dengan helikopter dan kendaraan lapis baja pada April 2004 menyerbu sebuah gereja Ortodoks di Pale. Karadzic dilaporkan menyamar sebagai pendeta. Namun pencarian ini juga nihil.
Presiden AS Bill Clinton dan Presiden Perancis Jacques Chirac pernah ingin membentuk pasukan khusus bersama tahun 1999 untuk mengejar Karadzic. Buronan atas pembantaian di Srebrenica, aksi pembantaian paling keji setelah Perang Dunia II, ini harus ditangkap sekalipun dengan risiko Karadzic tewas terbunuh.
Drama pencarian selama 13 tahun ini berakhir di Belgrade setelah peran intelijen Barat asing yang selama beberapa pekan ini aktif melacak keberadaan Karadzic. Dengan rambut panjang dan jenggot lebat, Karadzic bebas berkeliaran setiap hari seorang diri dengan bus. Dia bekerja di sebuah klinik pengobatan alternatif.
Petugas sipil Serbia yang mendapat tips dari intelijen asing mengikutinya sejak pagi hingga malam sebelum menangkapnya dalam sebuah bus di pinggiran Belgrade. ”Dia gembira karena bisa bebas berkeliaran,” ujar Vladimir Vukcevic, penuntut penjahat perang Serbia.
Peran intelijen asing bisa efektif karena kehadiran pemerintahan Serbia pro-Barat di Belgrade. Karadzic dikorbankan agat Serbia bisa masuk Uni Eropa. (AFP/PPG)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang