Generasi Muda Tionghoa Kini Banyak Terjun di Dunia Jurnalistik

Kompas.com - 23/07/2008, 09:32 WIB

JAKARTA, RABU - Catharine Keng sudah delapan tahun menjadi presenter Metro Xinwen, acara TV yang dibawakan dalam bahasa Mandarin. "Ketika kali pertama aku mendaftarkan diri menjadi pembawa acara dalam bahasa Mandarin, aku masih kurang percaya. Benar enggak sih ada TV yang menyiarkan acara dalam bahasa Mandarin," cerita Chaterine Keng dalam percakapan dengan Kompas di sebuah kafe di kawasan Senayan, Selasa (22/7) malam.

Pertanyaan Catharine saat itu wajar. Selama 32 tahun Indonesia dikuasai rezim Soeharto, bahasa Mandarin tak boleh tampil di depan publik. Namun, pada tahun 2000, Metro TV milik pengusaha Surya Paloh ini mencatat sejarah pertelevisian di Indonesia. Metro Xinwen menghadirkan berira-berita yang dibawakan dalam bahasa Mandarin.

"Waktu itu kandidatnya tidak banyak. Belum banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin. Situasi ini berbeda dengan situasi saat ini di mana sekarang kursus bahasa Mandarin menjamur dan jumlah orang Indonesia yang menguasai bahasa ini makin bertambah," ungkap Catharine.

Setelah Metro Xinwen hadir, banyak orang Tionghoa di Indonesia, terutama yang sudah lanjut usia, menanggapi positif. "Saat itu tidak penting apakah cara pengucapannya salah dan apa isinya, tetapi yang penting ada generasi muda Tionghoa yang dapat berbahasa Mandarin. Tanggapan positif tidak hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi juga masyarakat Indonesia umumnya. Ini menunjukkan orang Tionghoa sudah bagian integral dalam masyarakat Indonesia," kata sarjana Universitas Katolik Atmajaya Jakarta ini.

Catharine berpendapat, saat ini makin banyak orang muda Tionghoa yang tertarik terjun dalam dunia jurnalistik. Banyak lamaran dari anak-anak muda Tionghoa Indonesia. "Jika pada masa lalu banyak orang Tionghoa memilih terjun ke dunia usaha, itu karena hanya dunia itulah yang terbuka dimasuki. Tetapi, reformasi politik di Indonesia mengubah semuanya," kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Catharine Keng melihat sosok Surya Paloh sebagai pemimpin yang revolusioner dan berani. Menghadirkan Metro Xinwen di Metro TV sejak tahun 2000 dan bertahan sampai kini, memberi pengaruh besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini banyak orang Indonesia terbiasa mendengar bahasa Mandarin, sama seperti mendengar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

"Walaupun masih banyak orang muda Tionghoa yang belum fasih berbahasa Mandarin, suasana sekarang membuat orang muda Tionghoa tidak merasa berbeda dengan yang lainnya. Cara berpikir kaum muda Tionghoa yang dulu hanya ingin menjadi pengusaha, sekarang mulai berubah. Banyak yang ingin menjadi jurnalis, artis, juga politisi," kata perempuan lajang ini.

Catharine mengatakan, saat ini ia melakukan apa yang disukainya dan yang penting berguna untuk bangsa dan negara Indonesia. "Sebagai orang Tionghoa, aku tidak merasa berbeda. Justru kalau merasa beda, kita akan diperlakukan berbeda," kata Catharine yang belajar bahasa di Taiwan itu.

Ayah Catharine, Frank Ho, memang suka menulis dan membaca sehingga darah itu mengalir ke darah putrinya. Catharine bercerita, suatu hari dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China, ia termasuk jurnalis yang ikut serta. "Pak SBY meyakinkan orang-orang China di negeri itu bahwa saat ini tak ada lagi diskriminasi rasial di Indonesia. Pak Presiden memberi contoh, Catharine Keng yang menjadi jurnalis dan presenter Metro TV. Orang-orang China pun melirik ke arah saya dan manggut-manggut," ceritanya.

Nah, bagaimana dengan jodoh? Catharine mengaku hingga kini masih sendiri. "Kalau ada yang cocok, saya sih mau saja," katanya. Serius nih Catharine?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau