Maria Tak Tahu Cita-citanya...

Kompas.com - 23/07/2008, 10:43 WIB

"Cita-cita.... Apa ya? Aku enggak tahu mau jadi apa," kata Maria (15) polos. Pertanyaan tentang cita-cita itu ternyata tak mudah ditemukan jawabnya. Maria adalah satu dari ratusan anak pengupas kerang di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Jawaban itu tak begitu saja dilontarkan Maria. Ia harus berpikir sejenak untuk mengeluarkan jawaban tersebut hingga akhirnya menyerah dan berkata "tak tahu". 

Sesulit itukah bermimpi bagi seorang Maria? Jawaban lebih spontan justru keluar saat ditanya duduk di kelas berapa ia saat ini. "Seharusnya kelas II SMP, kalo terus," jawabnya. 

Rupanya Maria masih terus mengingat jenjang sekolah yang seharusnya ia jalani meskipun sudah 3 tahun ditinggalkannya. "Aku cuma sekolah sampe kelas V. Makanya, enggak tahu mau jadi apa," ujar Maria. 

Maria ditemui Kompas.com saat tengah melakukan pekerjaannya mengupas kerang, Selasa (22/7) siang kemarin. Maria bersama seorang adiknya ikut merantau ke Jakarta bersama paman dan bibinya. Enam tahun sudah ia meninggalkan ayah, ibu, dan ketiga adiknya yang masih berada di Pulau Bangka. Alasan ekonomi membuat Maria harus mengubur segala impian dan tak berani menggantungkan cita-cita setinggi langit. Ia sadar, ayah dan ibunya yang hanya seorang buruh perkebunan kelapa sawit di Bangka tak akan mampu membiayai sekolah anak-anaknya. 

Bagaimana dengan adiknya yang juga merantau bersama Maria? "Adikku masih sekolah. Sekolah gratis. Sekarang kelas 6. Tapi kebutuhannya dari aku semua," katanya. 

Maria pun dengan jujur mengakui bahwa keinginan untuk kembali mengenakan seragam sekolah masih tertanam di benaknya. Apa boleh buat, ia merasa tak punya pilihan. "Nantilah kalau ada biaya, mudah-mudahan bisa sekolah lagi," ujar Maria.

Upah mengupas kerang yang biasanya ia terima dalam sehari sekitar Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Atau, hitungannya mengupas satu drum rebusan kerang seberat lebih kurang 12 kilogram. Jam kerjanya tergantung setiap pengupas. Ia sendiri selalu memulai pekerjaannya pukul 11 siang hingga 5 sore. "Jamnya enggak tentu juga. Tergantung, selesai beres-beres rumah ama nyuci jam berapa," ujarnya.

Biasanya, Maria dan para pengupas kerang lainnya menerima pekerjaan itu secara borongan. "Kalo kerjanya cepat, ya bisa dapat banyak. Kalau lambat, ya sedapetnya atau ngerjain satu borongan dengan teman-teman lain," katanya. 

Untuk apa uang hasil keringatnya itu? "Buat beli baju dan celana. Sebagian ditabung biar bisa pulang ke Bangka. Aku belum pernah pulang sama sekali, kangen ibu ama adik-adik," jawabnya penuh harap. Harapan sederhana seorang Maria.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau