Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB. Sepuluh menit lagi, saat belajar itu tiba. Puluhan anak kolong jembatan tol Ancol-Cililitan, tepatnya kawasan perbatasan Warakas-Papanggo-Sunter sudah menunggu Delfi dan Evita, dua relawan Susteran Puteri Kasih yang akan mengajar mereka.
Tempatnya? Ya di bawah jembatan tol. Akan tetapi, hari Senin hingga Kamis, pukul 10.00 merupakan hari dan waktu yang selalu mereka tunggu. Saatnya belajar. Ini kisah mereka.
Beralaskan sebuah terpal biru, anak-anak itu duduk rapi. Membuka meja lipat yang mereka bawa sendiri. Tak peduli dengan hamparan sampah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat belajar. Tak peduli dengan tebaran (maaf) tahi kambing yang ada di mana-mana. Ini saatnya belajar.
Membukanya dengan menyanyikan lagu yang memompa semangat belajar mereka, memberikan salam pada para pengajar dan berdoa, merupakan ritual rutin sebelum mulai menuntut ilmu.
Mereka, anak-anak berusia 3 hingga 7 tahun. Senangkah mereka belajar di sana? Jawaban polos meluncur dari Manda (4), salah satu dari bocah kecil itu."Seneng. Bisa belajar baca," kata Manda sambil cengengesan.
"Di rumah belajar nggak?" Sebuah jawaban mengejutkan dilontarkannya, "Enggak, kalo di rumah digebukin," jawab Manda polos.
Anak lainnya, Risky juga terlihat sangat bersemangat. Mendatangi para pengajar, meminta tugas-tugas baru. Ia paling senang menggambar dan mewarnai.
Ibunda Risky menceritakan, di rumah anaknya sangat malas belajar. Namun, ketika jadwal belajar di kolong jembatan tiba, putranya sangat bersemangat. "Iya, dia yang ngajak-ngajak minta dianter. Kalau saya lagi males, ya dia berangkat sendiri. Katanya, enggak usah dianter, Mak," ujar ibu Risky, yang tak mau menyebut namanya.
Empat tahun menggelar belajar gratis di kolong tol
Delfi, sang pengajar pun menceritakan kisah anak-anak didiknya. Awalnya, bukanlah hal yang mudah untuk masuk ke komunitas kaum urban di pinggiran Jakarta itu. Banyak kecurigaan yang muncul.
Ia menegaskan, misi yang dibawa adalah kemanusiaan, tanpa membawa embel-embel lainnya. Kini, empat tahun sudah ia mengabdi di tempat itu. "Karakter anak-anak sini unik. Mungkin karena hidup mereka keras. Dulu, awal-awal mereka sangat pemalu. Tapi, oleh pengajar dipacu supaya tumbuh rasa percaya dirinya. Selalu kami katakan, kalau mau belajar, tidak ada yang tidak mungkin. Anak-anak dulu juga takut kalau bertemu orang asing. Lama-lama nggak," kata Delfi, usai mengajar anak didiknya.
Hal yang diajarkan pada anak pra sekolah itu sangat sederhana. Mengenal huruf, angka, Bahasa Inggris dasar serta membaca dan menulis. "Semua yang kita ajarin sama dengan TK formal. Bedanya, enggak ada ijazah dan beda tempat aja. Tapi warga sini juga kan ekonominya terbatas. Hanya beberapa yang masukin anaknya ke TK," ujar Delfi.
Orangtua anak-anak itu kebanyakan berprofesi sebagai pemulung. Tak jarang pula yang melakoni profesi lainnya (Delfi meminta tak disebutkan), yang tanpa disadari memengaruhi kondisi psikologis dan kepercayaan sang anak. "Ada seorang anak, Lani, cerita dengan polos. Saya malu. Bapak saya ditangkap polisi, dipenjara. Bayangkan, anak umur 5 tahun curhat seperti itu," kisahnya.
"Kami selalu bilang ke ibu-ibunya yang suka nganterin anaknya belajar. Mau ngapain aja, mau kerja apa aja silakan. Tapi anak-anak harus belajar. Dan kami bersyukur, semakin lama mereka juga semakin rajin mendampingi anak-anaknya," sambung Delfi.
Kegiatan belajar diakhiri sekitar pukul 11.30 WIB. Masih dengan menyanyikan lagu yang memompa semangat. "1..2..3..4/..5..6..7..8../Sekolah, sungguh senang.../Belajar sungguh senang/ Bangun pagi-pagi sungguh senang..."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang