Fahmi Idris: Bohong Besar Investor Hengkang

Kompas.com - 24/07/2008, 00:10 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Stefanus Osa

JAKARTA, RABU -- Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, surat keputusan bersama lima menteri tentang pengalihan jam kerja bagi industri di Jawa-Bali menjadi Sabtu dan Minggu tidak ada kaitannya dengan investor yang menunda masuk ke Indonesia.

"Pernyataan pengusaha itu mengada-ada. Itu saya anggap bohong besar pernyataan itu. Dahulu pun dikatakan di sejumlah media massa, ketika pemadaman listrik terjadi, sebanyak 40 pengusaha Jepang lari," kata Fahmi di Jakarta, Rabu (23/7).

Menurut Fahmi, entah di kalangan pemerintah maupun pengusaha besar mudah sekali mengeluarkan pernyataan pribadi, tanpa mendalami dan meneliti lebih lanjut. Dan kedua, media massa dengan mudahnya menjadikan statemen tidak mendasar itu diangkat sebagai konsumsi pemberitaan.

Kadin pernah mengungkapkan 40 perusahaan Jepang mau hengkang. Begitu dicek ke kedutaan, menurut Fahmi, penanam modal asing itu ternyata tidak hengkang. Dia menyesalkan pengusaha yang suka menyampaikan informasi tanpa menyelidiki kebenaran realitasnya.

Tanpa data akurat dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, hanya sekadar interpretasi saja. PMA dipastikan terdaftar di kedutaan dan kantor pajak. Sementara, PMA yang terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bisa mengajukan perizinan usaha tetapi belum tentu merealisasikan usahanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau