Ryan Jago Main Voli

Kompas.com - 24/07/2008, 09:09 WIB

JAKARTA, KAMIS-"Mengerikan! Seperti di film Silence of the Lamb." Begitulah komentar pembaca terhadap kasus pembunuhan berantai oleh Ryan. Kengerian di film itu, ternyata benar-benar ada di antara kita. Mulai hari ini, Warta Kota akan menurunkan kisah hidup,Ryan. Redaksi

Di desa kelahiran Ryan, tak banyak warga yang tahu persis sosok pria berusia 30 tahun itu. Warga Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur, hanya tahu sedikit tentang pria bernama asli Verry ldham Henyaksyah yang akrab mereka sapa Yansyah tersebut.

Semasa SMA, Ryan tergolong murid yang pintar. Selepas SMA, Ryan mengajar anak-anak di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Ar-Rohman di desanya. Di TPQ itu, Ryan merupakan guru favorit karena tidak pernah memarahi murid-muridnya.

Beberapa warga Jatiwates yang seumuran Ryan mengaku kenal Ryan namun tidak akrab. "Anaknya itu termasuk pintar, bahkan sejak SMP sudah kelihatan pintarnya. Makanya dulu ia diterima di SMA Negeri 2 Jombang. Meski satu kampung, saya kurang akrab," kata Muhadi, warga setempat.

Ryan dan keluarganya tinggal di sebuah rumah di Dusun Maijo. Bagian depan rumah tersebut digunakan untuk toko pakaian yang dikelola Ny Siyatun (50), ibu Ryan.

Warga juga mengatakan bahwa orangtua Ryan, pasangan Akhmad-Siyatun, jarang bergaul dengan tetangga. Rumah keluarga Akhmad yang berpekarangan luas ada di tengah-tengah ladang pisang dan bambu. Sisi kanan dan kiri merupakan perkarangan tetangga sedangkan yang di belakang merupakan kebun milik Akhmad.

Pekarangan rumah Akhmad dengan kebun, pisang di sisi kirinya, milik Giyanto (45), dibatasi pagar tembok setinggi sekitar 2 meter. Menurut para tetangga, setiap hari, hampir sepanjang hari rumah Akhmad selalu dalam keadaan tertutup. Warga pun tak tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Giyanto mengaku tidak akrab dengan Ryan maupun orangtua Ryan. "Orangnya (Ryan) sih kelihatannya baik, sopan, dan sangat ganteng. Kulitnya putih bersih," katanya.

Sejumlah warga menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir keluarga Ryan bermusuhan dengan sebagian besar warga dusun. Pasalnya, keluarga Ryan merupakan pendukung Solichan, Kepala Dusun Maijo, yang merupakan sepupu Ny Siyatun. Padahal, sebagian besar warga dusun tersebut memusuhi Solichan.

Latihan voli

Menurut warga, Ryan sering pergi berhari-hari. Namun warga tidak tahu persis pekerjaan Ryan. Mereka hanya tahu bahwa Ryan adalah instruktur senam dan fitness di sebuah pusat kebugaran di pusat kota Jombang, sekitar setengah jam perjalanan dengan sepeda motor dari Dusun Maijo.

Sejak remaja, Ryan lebih akrab dengan pemuda desa sebelah, yakni Desa Sentul. Ryan yang memiliki tinggi badan sekitar 170 cm sering ikut latihan voli di desa tersebut. Menurut Giyanto, selepas SMA, Ryan juga masih akrab dengan warga Desa Sentul.

Susanto (42), warga setempat, mengatakan Ryan adalah pemuda pendiam. "Meskipun badannya atletis, bicaranya kalem, tidak seperti laki-laki pada umumnya," katanya. Satu-satunya warga Dusun Maijo yang akrab dengan Ryan adalah Irsyad (30), yang tinggal sekitar 50 meter dari rumah Ryan. Menurut Irsyad, dirinya dan Ryan akrab sejak tahun 2002 saat sama-sama mulai mengajar di TPQ Ar-Rohman.

Putri, mantan murid TPQ Ar-Rohman, mengatakan Ryan adalah guru mengaji yang baik dan menyenangkan. "Mas Yansah tidak pernah memarahi kami. Kalau ada murid yang bikin gaduh, paling-paling dia hanya mengingatkan agar segera diam," katanya.

Para murid TPQ itu juga menilai, pelajaran yang disampaikan Ryan lebih gampang diserap daripada pelajaran yang disampatkan guru-guru yang lain. "Cara menerangkannya pelan dan jelas," kata Wawan yang menjadi murid Ryan pada tahun 2006 saat is masih kelas V SD. (Tim Warkot/bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau