Di Sel, Ryan Tidur Memeluk Kucing

Kompas.com - 24/07/2008, 14:13 WIB

SURABAYA, KAMIS - Kebiasaan Ryan tidur di kamar kos bertarif Rp 2,6 juta per bulan membuat dia tak nyaman ketika harus meringkuk di sel penjara. Sejak dijebloskan ke tahanan Polda Jatim pada Senin lalu, dia harus mencari kehangatan saat malam menjelang.

Ryan diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan terhadap beberapa orang yang jasadnya sebagian dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jombang. Sementara itu, korban terakhir, Heri Santoso, dimutilasi dan potongan-potongan tubuhnya dimasukkan dalam beberapa koper.

Sebelumnya, Ryan yang dikeler ke Surabaya, Minggu (20/7) lalu, masih merasakan sejuknya mesin pengatur udara (AC) di kamar hotel. Polisi dari Polda Metro Jaya yang membawanya tidak langsung menitipkan Ryan di sel Polda Jatim. “Baru setelah pembongkaran tempat penguburan empat korbannya di Jombang, Ryan dimasukkan ke sel,” ujar seorang anggota Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Metro Jaya, Rabu (23/7).

Meski berperilaku kemayu, di sel Polda tak ada tahanan lain, termasuk tahanan lelaki, yang berani mendekati Ryan.

“Tidak tampak sama sekali (kemayunya). Dia justru seperti sosok yang jantan dengan tubuh yang gempal dan tinggi. Saya juga heran kalau selama ini disebut dia berperan sebagai perempuan ketika berhubungan intim dengan pasangannya yang sesama jenis,” urai Kasat Pidana Umum (Pidum) Polda Jatim AKBP Susanto, Rabu.

Karena tidak memiliki teman, seekor kucing yang sudah jinak dipilih Ryan untuk menemaninya. “Selama tidur, dia memeluk kucing itu. Dipeluknya dengan rapat, seperti memeluk guling,” ujar seorang petugas yang ikut menjaga Ryan di tahanan.

Status Ryan cukup "istimewa" dibanding tahanan lain yang menghuni sel Polda Jatim. Dia mendapatkan pengawasan cukup ketat dan khusus agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. “Orang seperti dia lebih bahaya dari perampok. Siapa tahu di dalam tahanan tiba-tiba bunuh diri atau justru membunuh teman satu bloknya,” katanya.

Padahal, selama menjalani penyidikan, tidak ada kesan buas dan kasar pada sosok Ryan, yang selama ini menjadi instruktur senam dan aktif di pusat kebugaran. Wajahnya yang bersih, tampan, dengan postur tubuh yang tinggi membuatnya tak terlihat seperti sosok pembunuh. “Tapi kita takut juga saat menyidik dia. Siapa tahu, saat kita konsentrasi pada materi penyidikan, tiba-tiba dia memukul,” ujar seorang polisi.

Sebagai antisipasinya, semua benda keras seperti asbak, piring, dan gelas dijauhkan dari Ryan selama menjalani proses penyidikan. Pengetahuan polisi soal watak Ryan sebagai pembunuh berdarah dingin itu didapat dari pengakuannya selama diperiksa.

Dalam penyidikan, Ryan memang tak selalu diborgol, sebagai perangsang agar dia mau lebih terbuka memberi keterangan. Diberitakan sebelumnya, kondisi Ryan kerap agak labil sehingga keterangannya bisa berubah-ubah. Dalam pengakuan Ryan, seluruh korban yang dibunuh dan dikubur di pekarangan rumahnya di Jombang dihabisi saat mereka lengah.

“Biasanya diajak jalan-jalan dulu ke kebun di belakang rumahnya. Setelah lengah, baru korbannya itu dipukul,” ujar Susanto.

Rata-rata, para korban itu dihabisi sekitar pukul 10.00. Tak ada orang lain yang membantunya, mulai saat mengeksekusi hingga menguburkan di pekarangan rumah. Apakah orangtua Ryan tak tahu? Biasanya, eksekusi itu dilakukan saat kedua orangtuanya berada di rumah anaknya yang lain di Sidoarjo.

“Sehingga begitu leluasa dia melakukan pembunuhan itu. Apalagi tetangga yang ada di kiri-kanan rumahnya itu masih terhitung kerabatnya semua,” ujar seorang polisi.

Ryan adalah anak pasangan Akhmad dan Siyatun. Keduanya menikah dalam status duda dan janda. Dari pernikahan sebelumnya, Akhmad mempunyai seorang anak. Demikian pula Siyatun. (tja/st8/dos)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau