Dijauhi Teman Dekat

Kompas.com - 25/07/2008, 08:35 WIB

JAKARTA, JUMAT - Satu-satunya warga sedusun yang menjadi teman akrab Ryan, tersangka pelaku pembunuhan berantai, adalah Irsyad (30). Mereka akrab sejak tahun 2002 saat sama-sama menjadi pengajar di TPA Ar-Rohman di desanya, Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur.

Karena kedekatan itu pula, Irsyad meminjamkan BKPB miliknya kepada Ryan, yang di desanya disapa Yansyah, untuk dipakai sebagai jaminan di koperasi simpan pinjam. Bahkan, bukan cuma satu, melainkan tiga BPKB.

Irsyad tak tahu penggunaan uang pinjaman tersebut. Hanya, Ryan tampaknya memang doyan belanja. Pada masa itu Ryan juga menggunakan KTP Irsyad untuk mengkredit barang elektronik dari toko Court, Jombang. Di toko itu pula Ryan kenal dengan Vincentius Yudi Triono alias Vincent (32), karyawan toko Court. Keduanya kemudian berkawan akrab.

Pada tahun 2006 Irsyad menjauh karena melihat gelagat Ryan menyukai dirinya. Irsyad mengaku Ryan pernah nyaris mencium dirinya dan memegang alat kelaminnya. Ayah Irsyad, Roikhani (alm), saat itu juga melihat gelagat itu. Ia lantas melarang Irsyad dekat-dekat dengan Ryan.

Dalam proses menjauhi Ryan, Irsyad sering menasihati sahabatnya itu agar tidak melakukan hubungan sesama jenis. Irsyad juga memutuskan untuk menutup semua utang atas nama dirinya itu dengan tujuan bisa segera putus hubungan dengan Ryan. Irsyad melego sepeda motor untuk menutup utang-utang itu.

Sejak Irsyad menjauh, Ryan jadi sering pergi. Ryan berangkat pagi-pagi sekali, seakan-akan menghindari bertemu tetangga. Bahkan, Ryan juga sering tidak pulang untuk beberapa hari. Kepada tetangga yang bertanya tentang kegiatannya, Ryan mengaku dirinya jadi instruktur di pusat kebugaran Marcella Gymnastic di pusat Kota Jombang dan menjadi instruktur senam di Malang.

Dipanggil gus

Pengelola Marcella Gymnastic, Ida Rosita, membantah Ryan adalah instruktur di pusat kebugaran tersebut. Menurutnya, Ryan hanyalah member (anggota). Pada akhir 2007 Ryan dipecat dari keanggotaan Marcella karena mencuri ponsel dan tablet suplemen milik member lain di ruang ganti.

Di Marcella Ryan mengaku sebagai anak kiai di Pondok Pesantren Tambakberas sehingga member lain memanggilnya dengan tambahan gus di depan namanya. Di Jawa Timur gus adalah panggilan untuk putra pengasuh pondok pesantren.

Di Marcella itu pula Ryan kenal dengan Nanik Kristanti (26), sesama member. Nanik adalah istri Suprayitno (30), warga Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang. Nanik dan anaknya yang berumur tiga tahun hilang sejak 2 April 2008. Setelah dipecat dari Marcella, Ryan pindah ke pusat kebugaran Macho Fitness, tak jauh dari Marcella.

Sejak Irsyad menjauhi Ryan, warga Desa Jatiwates sering memergoki Ryan pulang berboncengan sepeda motor dengan laki-laki muda. Menurut Susiyati, tetangga Ryan, para tamu Ryan rata-rata ganteng dan berkulit bersih. Mereka sepertinya juga dari luar Desa Jatiwates karena Susiyati asing dengan rekan-rekan Ryan tersebut.

Sementara itu, hubungan Ryan dan Vincent semakin akrab. Pada Maret 2008 Vincent bagaikan ditelan bumi. Aries, adik Vincent, mengaku terakhir kontak dengan kakaknya pada 14 Maret lalu. Ketika Vincent tak bisa dihubungi, keluarga Vincent yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah, berangkat ke Jombang.

Di tempat kos Vincent, mereka mendapat kabar bahwa Vincent pergi bersama Ryan. "Tempat kosnya kosong. Informasi yang kami dapat, ia pergi dengan Ryan sambil membawa laptop, kipas angin, magic jar, dan kulkas," ujar Aries melalui telepon. Aries menambahkan, kakaknya berubah sejak bekerja di Jombang pada awal 2006. "Sebelumnya normal. Sejak bekerja ia jadi seperti perempuan," katanya.

Sementara itu, Suprayitno, suami Nani, mengatakan, istrinya tak pulang sejak 2 April lalu. Saat itu Nanik pamit untuk pergi menengok orangtuanya di Banyuwangi, sekitar sembilan jam perjalanan dengan bus dari Jombang. Nanik pergi dengan anaknya yang berusia sekitar tiga tahun.

Namun, Nanik dan sang anak tak pernah muncul di Banyuwangi. Di sisi lain, Suprayitno mendapat kabar bahwa pada hari itu Nanik dan anaknya serta Ryan justru terlihat di sebuah toko emas di Jombang. Diduga, saat itu Nanik menjual perhiasannya.

Kepala Desa Jatiwates Makhmud mengatakan, sejak April 2008 Ryan jadi jarang ada di rumah. "Katanya kerja di luar kota. Katanya di Jakarta," tuturnya. Menurutnya, di desa itu Ryan tinggal bersama orangtuanya. Kakak Ryan, Mulya Wasis, ataupun adiknya, Nunik (28), sudah berumah tangga dan tinggal di desa lain.

Di mata Makhmud, Yansah (Ryan) adalah anak yang baik. Yansah juga memberi kontribusi bagi desanya dengan menjadi pengajar di TPA dan melatih tari anak-anak desa tersebut antara lain menjelang peringatan 17 Agustus.

Warga Desa Jatiwates tak tahu persis pendidikan terakhir Ryan. Yang mereka tahu, selepas SMA, Ryan kuliah di jurusan seni rupa. Namun, warga tak tahu nama perguruan tingginya. Sementara itu, di rumah, kegiatan Ryan adalah berternak ayam dan kambing di pekarangan rumahnya. (Tim Warkot/bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau