Tumijo-Misinem Khawatir Anaknya Jadi Korban Ryan

Kompas.com - 25/07/2008, 12:11 WIB

SURABAYA, JUMAT - Hati pasangan Tumijo dan Misinem asal Nganjuk, Jawa Timur gundah. Putera mereka, Agil Ardiawan, menghilang sejak April 2006. Ketika kasus Ryan mencuat, pasangan ini segera "mendaftarkan diri" ke polisi sebagai orang tua yang kehilangan anaknya.

Selanjutnya, pascapenemuan empat jenazah di belakang rumah orangtua Ryan di Jombang Tumijo dan Misinem termasuk dalam daftar keluarga yang menjalani tes DNA. Ada empat keluarga yang datanya diambil tim dokter untuk mencocokkan dengan tiga jenazah.

Entah harus senang atau sedih Tumijo - Misinem. Sedikit lega, karena Agil Ardiawan diragukan sebagai salah satu korban dari empat jenazah itu. Tetap sedih, karena kedua orangtua itu belum mendapat kepastian tentang kabar anaknya.

Satu kerangka jenazah dipastikan berasal dari ras eropa. Sementara, tiga jenazah lainnya telah diyakini sebagai Aril, Vincen dan Guruh. Agil diragukan sebagai salah satu dari tiga jenazah itu karena ia menghilang sejak April 2006 sementara keempat jenazah tersebut, menurut pengakuan Ryan, dibunuh sepanjang tahun 2007 hingga 2008.

"Jadi, ada empat orangtua yang kami cocokkan datanya dengan tiga jenazah yang bukan ras Eropa, sehingga ada satu orangtua yang kami ragukan memiliki anak menjadi korban Ryan," katanya.
     
Tiga orangtua "korban" lain yang diambil sampel untuk tes DNA adalah keluarga Aril Somba Sitanggang dari Malang, Jatim. Mereka adalah Rizan dan Ganda Harapan Sitanggang.
     
Untuk keluarga korban Vincensius Yudi Priono dari Wonogiri, Jateng yang diambil sampel DNA adalah Raimina Rusdi.
     
Sementara itu, keluarga korban Guruh Setio Pramono dari Nganjuk, Jatim yang diambil sampel DNA adalah Sri Sumiyati (ibu), Sulistianto, dan Erik Triadi
     
Keempat korban itu "dihabisi" Ryan di pekarangan rumah milik orang tuanya di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tidak ada tanda-tanda mutilasi pada keempat jenazah. Hasil forensik mendapatkan, semua korban memiliki tanda-tanda kekerasan akibat benda tumpul di kepala.
     
"Bahkan, ada satu jenazah yang memiliki luka kepala sangat besar. Hal lain yang sudah pasti adalah semua jenazah adalah laki-laki," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau